Bukan Sekadar Hiburan, Dongeng Bangun Karakter Anak sejak Dini
- 21 Jun 2026 05:52 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta — Di tengah maraknya penggunaan gawai pada anak, metode mendongeng dinilai tetap relevan sebagai sarana membangun karakter sekaligus meningkatkan minat baca. Hal tersebut disampaikan pendongeng dari Istana Dongeng Nusantara, Kak Sidik, dalam program Obrolan Komunitas RRI Surakarta pada Senin, 8 Juni 2026
Kak Sidik mengatakan, Istana Dongeng Nusantara berdiri sejak 2011 sebagai respons atas menurunnya budaya literasi di kalangan anak. Menurutnya, kehadiran gadget membuat waktu anak bersama buku dan orang tua semakin berkurang.
"Berangkat dari keresahan kami melihat anak-anak mulai meninggalkan buku karena lebih banyak bersama gadget. Dongeng menjadi salah satu cara untuk mengembalikan kecintaan mereka terhadap cerita dan literasi," ujarnya.
Komunitas yang berbasis di Surakarta tersebut aktif menggelar pelatihan mendongeng, safari dongeng ke sekolah maupun berbagai komunitas, serta mengembangkan media pendukung seperti boneka puppet, buku, hingga karya tulis ilmiah mengenai dunia dongeng. Selain membina pendongeng baru, Istana Dongeng Nusantara juga telah memiliki puluhan anggota yang tersebar di wilayah Solo Raya.
Para peserta pelatihan tidak hanya belajar teknik bercerita, tetapi juga mendapat pendampingan sebelum bergabung sebagai anggota komunitas. Menurut Kak Sidik, kemampuan mendongeng tidak terbatas pada mereka yang memiliki bakat berbicara di depan umum. Setiap orang dapat menjadi pendongeng dengan memanfaatkan karakter dan kelebihan masing-masing.
"Kami tidak memaksa semua orang harus bisa mengubah suara atau bernyanyi. Setiap orang punya ciri khas yang bisa dipadukan dalam mendongeng," katanya.
Ia menilai dongeng menjadi alternatif efektif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap telepon genggam. Cerita yang menarik mampu mengalihkan perhatian anak sekaligus menyampaikan pesan moral tanpa terasa menggurui.
Dalam kesempatan tersebut, Kak Sidik juga mempraktikkan teknik mendongeng menggunakan boneka ventriloquis. Ia membawakan kisah tentang Wira, seorang anak yang tetap memegang amanah ayahnya untuk tidak membuka dompet sebelum sampai di rumah kakek.
Cerita tersebut mengajarkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan dapat dipercaya. Berdasarkan kajian yang pernah dilakukannya, Kak Sidik menyebut dongeng memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai hiburan dan media pendidikan karakter.
Perpaduan keduanya membuat pesan lebih mudah diterima anak, terutama pada usia dini yang memiliki rentang konsentrasi relatif singkat. "Dongeng adalah salah satu cara untuk mendidik tanpa merasa menggurui, mendidik tanpa merasa menyakiti," ucapnya.
Bagi masyarakat yang ingin belajar mendongeng, Kak Sidik menyarankan memulai dari cerita sederhana dengan bantuan buku maupun naskah.
Ia juga memperkenalkan konsep CAS-CIS-CUS, yaitu membuka cerita dengan aksi yang menarik perhatian, menyampaikan kisah yang menginspirasi, kemudian menutupnya dengan pesan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di akhir perbincangan, Kak Sidik mengajak para orang tua untuk kembali membiasakan budaya bercerita di rumah. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi bekal penting dalam membentuk karakter anak sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan buah hati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....