Sukacita Memiliki Anak Istimewa

  • 21 Jun 2026 06:01 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Setiap anak hadir sebagai anugerah yang berharga. Mereka membawa warna, pelajaran, dan kebahagiaan tersendiri dalam kehidupan keluarga. Begitu pula dengan anak-anak Istimewa atau anak berkebutuhan khusus , sering kali mengajarkan arti cinta tanpa syarat, kesabaran, ketekunan, dan rasa syukur yang mendalam. Begitu juga dengan Maria Intan yang bersyukur walaupun mempunyai anak yang mempunyai kekurangan atau berkebutuhan khusus.

“ Anak saya Tania berumur 13 tahun dan menderita selebral palsi dari umur 6 bulan dan seumur hidupnya nanti harus didampingi, harus ada pendamping, baik orang tua ataupun pendampingnya, ucap Maria Intan ( Ketua Forum Buah Hati Berseri Kota Surakarta ) saat berbincang di Obrolan Siang RRI Surakarta.

Tania mengalami cerebral palsy tipe quadriplegia, yaitu kondisi yang menyebabkan gangguan gerak pada seluruh tubuh sehingga membutuhkan pendampingan sepanjang hidup. Gejala Tania mulai terlihat sejak usia 4 bulan karena mengalami keterlambatan perkembangan, seperti belum mampu tengkurap atau mengangkat kepala.

Diagnosis cerebral palsy baru diketahui saat Tania berusia 6 bulan setelah menjalani pemeriksaan dokter. Tania tidak dapat berbicara, tetapi mampu memahami pembicaraan dan berkomunikasi melalui ekspresi wajah, gerakan bibir, dan bahasa tubuh.

Maria Intan mengakui bahwa dirinya dan suami sempat merasa sangat terpukul ketika mengetahui kondisi anak pertama mereka. Namun, dukungan keluarga, terutama dari suami dan ibunya, membantu mereka bangkit dan fokus mencari terapi serta perawatan terbaik bagi Tania.

Selama bertahun-tahun, Tania menjalani fisioterapi dan terapi okupasi untuk mendukung perkembangannya. Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk biaya perawatan yang besar dan kebutuhan khusus dalam nutrisi serta terapi, Intan memilih menjalani semuanya dengan sukacita.

Ia memandang Tania sebagai anugerah sekaligus guru kehidupan yang mengajarkannya kesabaran, pengendalian emosi, keteguhan hati, dan rasa syukur. Menurutnya, anak berkebutuhan khusus tidak boleh dianggap sebagai beban.

Orang tua perlu menerima kondisi anak, memberikan perhatian maksimal, serta terus mencari cara terbaik untuk mendukung tumbuh kembang mereka. Tania sendiri bersekolah di SLB untuk membantu proses sosialisasi dan mengenal lingkungan di luar rumah.

Selain sebagai orang tua, Intan juga aktif sebagai Ketua Forum Buah Hati Berseri Kota Surakarta, sebuah komunitas yang mewadahi orang tua anak berkebutuhan khusus. Forum ini menjadi tempat berbagi pengalaman, saling mendukung, serta menyediakan berbagai kegiatan bagi anak dan orang tua.

Pesan utama yang disampaikan Intan adalah agar orang tua anak berkebutuhan khusus tidak merasa sendiri atau putus asa. Dengan penerimaan, dukungan keluarga, keyakinan kepada Tuhan, dan semangat untuk terus berusaha, mereka dapat menjalani kehidupan dengan lebih kuat dan menemukan sukacita dalam merawat anak istimewa yang dipercayakan kepada mereka.

Mempunyai Anak istimewa mengajarkan keluarga tentang kesabaran, ketulusan, rasa syukur, dan kasih tanpa syarat. Dukungan keluarga, lingkungan, tenaga profesional, serta komunitas menjadi faktor penting dalam membantu perkembangan anak.

Setiap anak memiliki potensi unik yang perlu dihargai dan dikembangkan. Bukan hanya tentang menghadapi keterbatasan, tetapi juga tentang menemukan kebahagiaan, kekuatan, dan makna hidup melalui perjalanan bersama mereka. ( Ria )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....