Narasi Menyesatkan Soal Vaksin HPV Ramai di Media Sosial

  • 30 Mar 2026 19:21 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Sebuah unggahan video dari akun Instagram “singanuswantara” ramai diperbincangkan publik. Konten tersebut menampilkan cuplikan layar artikel Kompas.com yang membahas rencana vaksinasi HPV bagi anak laki-laki usia 11 tahun pada 2027.

Video itu kemudian dipadukan dengan rekaman seorang pria yang menyatakan penolakan terhadap vaksin. Narasi yang menyertai unggahan juga menggiring opini bahwa Indonesia dijadikan lokasi uji coba vaksin kanker dan TBC.

Unggahan tersebut disertai ajakan emosional kepada masyarakat untuk “membuka mata” dan menyelamatkan bangsa. Hingga artikel ini ditulis, video itu telah ditonton lebih dari 33.000 kali dan menuai ribuan interaksi dari pengguna.

Mengutip laman TurnBackHoax, Tim Pemeriksa Fakta Mafindo telah menelusuri kebenaran klaim tersebut. Hasilnya, tidak ditemukan bukti kredibel yang mendukung narasi bahwa Indonesia menjadi negara uji coba vaksin berbahaya.

Artikel Kompas.com yang dijadikan dasar klaim justru menjelaskan tujuan vaksinasi HPV adalah memperluas perlindungan terhadap virus penyebab kanker leher rahim. Program ini ditujukan untuk pencegahan, bukan sebagai eksperimen medis.

Sementara itu, video pria yang disebut menolak vaksin HPV ternyata tidak relevan dengan isu tersebut. Rekaman itu berasal dari aksi protes terhadap kebijakan vaksin Covid-19 pada 27 Januari 2022 di depan Kementerian Kesehatan.

Penjelasan para ahli juga menegaskan bahwa vaksin HPV telah melalui proses penelitian panjang dan uji klinis ketat. Vaksin ini bahkan telah disetujui sejak 2006 dan digunakan di lebih dari 125 negara di dunia.

Berbagai studi internasional menunjukkan vaksin HPV efektif menekan risiko infeksi dan kanker serviks. Oleh karena itu, klaim yang menyebut vaksin ini berbahaya dan menjadikan anak sebagai “kelinci percobaan” tidak memiliki dasar ilmiah.

Kesimpulannya, narasi yang beredar dalam video tersebut merupakan informasi menyesatkan. Program vaksinasi HPV justru bertujuan melindungi kesehatan masyarakat, bukan sebagai uji coba yang membahayakan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....