Optimisme Benih Non-GMO, Solusi Sehat Swasembada Kedelai di Lahan Terbatas

  • 18 Mei 2026 09:47 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen - Di tengah potret buram penyusutan lahan tersebut, para petani dan penangkar benih di Sragen tidak patah arang. Kehadiran varietas kedelai lokal non-GMO menjadi strategi baru untuk mengejar ketertinggalan produksi.

Sunarso, seorang penangkar benih kedelai lokal, menyatakan optimismenya terhadap keunggulan benih murni ini. Menurutnya, kedelai non-GMO memiliki kualitas kesehatan yang jauh lebih baik untuk dikonsumsi masyarakat.

"Kedelai non-GMO merupakan kedelai murni, original gene, sehingga tidak mengandung unsur-unsur yang mengganggu kesehatan. Ini sangat bagus untuk ketahanan pangan, gizi, serta membantu kecerdasan dan kebugaran masyarakat. Sudah diuji coba di Sragen dan hasilnya bagus," kata Sunarso dengan optimistis Jumat 15 Mei.

Sunarso menambahkan bahwa program kemitraan seperti "Bulog Peduli" menjadi pemantik semangat baru bagi para petani untuk meningkatkan mutu dan produktivitas komoditas ini.

Salah satu tantangan terbesar budidaya kedelai lokal selama ini adalah rendahnya hasil panen akibat minimnya pendampingan. Sunarso memaparkan, tanpa adanya kemitraan atau jaminan pasar yang jelas, produktivitas kedelai lokal biasanya hanya berkisar antara 1,3 sampai 1,4 ton per hektare.

Namun, melalui pembinaan yang terstruktur dan penggunaan benih unggul, angka tersebut bisa melompat drastis.

"Jika dibina dengan baik, produktivitasnya bisa mencapai 2,2 sampai 2,4 ton per hektare. Kehadiran Bulog yang memberikan jaminan pasar dengan mengarah pada aspek mutu tentu menjadi angin segar bagi kami," ucap Sunarso menambahkan.

Tantangan berikutnya adalah meyakinkan para pengrajin tahu dan tempe lokal yang selama ini sudah telanjur bergantung dan terbiasa mengolah kedelai impor. Menanggapi hal tersebut, pihak Perum Bulog menyatakan tengah menggencarkan gerakan edukasi dari hulu ke hilir.

"Itu bagian dari kampanye nasionalisme konsumen kita, termasuk pada komoditas beras dan kedelai. Kami sudah melakukan sosialisasi kepada para pengrajin di Pendopo Kabupaten mengenai teknik dan cara mengolah kedelai non-GMO ini," ungkap perwakilan Bulog.

Mengenai persaingan harga di mana kedelai impor jauh lebih murah karena berstatus produk GMO, Sunarso menegaskan hal tersebut bukan menjadi hambatan mutlak. Kuncinya ada pada efisiensi dan optimalisasi budidaya di tingkat lahan.

"Kedelai impor memang lebih murah karena itu GMO. Namun, hal itu bisa kita atasi dengan meningkatkan produktivitas melalui penggunaan benih unggul, aplikasi pupuk yang tepat, dan manajemen irigasi yang presisi. Dengan kualitas yang bagus, kita siap menyuplai kebutuhan dalam negeri," ucap Sunarso optimistis. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....