Bijak Gunakan Pestisida, Produktivitas Naik tanpa Merusak Lingkungan
- 25 Feb 2026 12:27 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Penggunaan pestisida dan pupuk kimia dalam pertanian tidak bisa sepenuhnya ditinggalkan. Namun, jika digunakan secara berlebihan, justru dapat merusak lingkungan, meningkatkan biaya produksi, hingga meninggalkan residu berbahaya pada pangan.
Hal itu disampaikan Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Karangdowo, Klaten, Andik Susanto, SPT, dalam program Jagongan RRI Pro 4 Surakarta pada Selasa, 24 Februari 2026 yang membahas pentingnya penggunaan pestisida dan pupuk secara bijak dan berkelanjutan.
Menurut Andik, pestisida kerap disalahartikan sebagai “obat tanaman”, padahal secara prinsip adalah racun untuk mengendalikan hama dan organisme pengganggu.
“Pestisida itu bukan obat, tetapi racun untuk melumpuhkan hama. Karena sifatnya racun, maka penggunaannya harus tepat dan tidak boleh berlebihan,” ucapnya.
Ia merujuk pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43 Tahun 2019 yang mengatur pendaftaran pestisida. Pestisida yang digunakan petani harus terdaftar secara resmi agar bahan aktifnya aman dan telah lolos uji.
Selain itu, Andik menekankan prinsip 6T dalam penggunaan pestisida, yakni tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat sasaran, tepat cara, dan tepat mutu. Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan pre-harvest interval atau jarak waktu antara penyemprotan terakhir dan masa panen guna meminimalkan residu pada hasil pertanian.
“Kalau jarak panen tinggal dua minggu, jangan disemprot lagi. Nanti residunya bisa tertinggal di produk pangan,” katanya.
Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia juga harus berimbang. Tanaman memiliki batas kemampuan menyerap unsur hara. Jika diberikan berlebihan, pupuk justru terbuang dan tidak meningkatkan hasil secara signifikan.
“Kalau kemampuan serapnya 50 kilogram, lalu diberi 75 kilogram, yang 25 kilogram itu terbuang. Biaya produksi naik, hasil belum tentu naik,” kata Andik.
Ia mengakui, ketergantungan petani pada bahan kimia tidak lepas dari tekanan produktivitas dan faktor ekonomi. Pengendalian hama secara kimia biasanya menjadi langkah terakhir ketika serangan telah melewati ambang batas ekonomi.
Namun demikian, konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) terus didorong melalui pendampingan penyuluh. Pendekatan ini memadukan pengendalian hayati, pemanfaatan musuh alami, penanaman refugia, hingga penggunaan pestisida nabati sebelum beralih ke bahan kimia. “Pestisida kimia itu alternatif terakhir. Jangan langsung disemprot kalau masih bisa dikendalikan dengan cara lain,” ujarnya.
Sebagai konsumen, masyarakat juga dapat mengurangi risiko residu dengan mencuci dan memasak bahan pangan secara benar. Meski demikian, Andik menekankan bahwa pengujian laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan kadar residu benar-benar aman.
Di akhir dialog, Andik mengajak para petani untuk tetap produktif tanpa mengorbankan keberlanjutan lahan. “Penggunaan pupuk dan pestisida itu keniscayaan, tapi harus presisi. Jangan berlebihan. Tujuannya bukan hanya panen banyak, tapi juga menjaga lingkungan dan keamanan pangan,” katanya. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....