Hidroponik, Pemanfaatan Lahan Sempit hingga Peluang "Cuan" Digital

  • 25 Feb 2026 12:13 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Keterbatasan lahan di perkotaan bukan lagi alasan untuk berhenti menanam. Justru dari halaman rumah yang sempit, gerakan pertanian hidroponik di Kota Surakarta tumbuh melalui komunitas dan jejaring media sosial.

Hal itu disampaikan Owner Embun 818, Anggi Bito Lukmanto, dalam Dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta pada Senin, 23 Februari 2026 yang membahas upaya membangun kesadaran pertanian hidroponik perkotaan melalui komunitas dan digitalisasi. Menurutnya, hidroponik menjadi solusi bagi kota padat penduduk seperti Solo yang memiliki keterbatasan ruang tanam.

“Kota Solo itu padat penduduk. Lahan terbatas, tapi pola konsumsi sayur tinggi. Maka muncullah ide bagaimana masyarakat bisa menanam di lahan sempit, bahkan di halaman rumah,” katanya.

Ia menerangkan, hidroponik merupakan metode pertanian tanpa tanah yang menggunakan aliran nutrisi sebagai media tumbuh. Untuk wilayah Solo yang bercuaca panas, sistem Nutrient Film Technique (NFT) dinilai lebih efektif karena mampu menjaga kestabilan suhu air nutrisi.

Namun Anggi menekankan, kunci utama bukan pada teknologinya, melainkan pola pikir. “Banyak orang bertani ingin langsung cuan. Padahal mindset pertama itu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dulu. Jangan buru-buru mengejar keuntungan,” ujarnya.

Ia mendorong masyarakat memulai dari hal sederhana, seperti menanam kangkung, bayam, sawi, atau pakcoy menggunakan galon dan styrofoam bekas. Ketika berhasil panen pertama, rasa percaya diri akan tumbuh, sekaligus mematahkan anggapan “tangan panas” yang kerap menjadi alasan gagal menanam.

Dalam praktiknya, komunitas memiliki peran penting sebagai ruang berbagi pengetahuan dan solusi. Anggi menyebut, kelompok kecil di tingkat RT dapat berkembang menjadi paguyuban yang lebih besar, bahkan terhubung dengan komunitas hidroponik regional hingga nasional melalui media sosial.

“Kalau kelompok kecil punya masalah, komunitas jadi tempat sharing. Tapi tetap harus disaring informasinya. Belajarlah dari satu atau dua petani dulu sampai tuntas, jangan semua saran dicoba sekaligus,” katanya.

Selain sebagai sarana edukasi, media sosial juga membuka peluang ekonomi baru. Anggi memanfaatkan Instagram dan Facebook Pro untuk berbagi konten edukatif sekaligus membangun personal branding.

“Sekarang bukan hanya panen sayur, tapi bisa panen view. Dari proses tanam sampai panen, itu bisa jadi konten. Jadi ada dua pemasukan: hasil sayur dan hasil digital,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan ini efektif menarik minat generasi muda yang cenderung dekat dengan dunia digital. Konten kreatif menjadi pintu masuk sebelum mereka benar-benar terjun ke praktik budidaya.

Melalui Embun 818 yang berdiri sejak 2018, Anggi mengaku lebih memilih strategi edukasi jangka panjang dibandingkan penjualan instan. “Kalau kita ajarkan orang menanam dan mereka merasakan manfaatnya, suatu saat mereka akan kembali. Itu lebih berkelanjutan,” katanya.

Di akhir dialog, ia menegaskan bahwa pertanian hidroponik bukan sekadar soal teknik, melainkan gerakan bersama untuk menciptakan kota yang lebih hijau dan sehat.

“Bukan hanya benih sayuran yang kita semai, tapi juga jiwa petani yang kita tanamkan. Agar generasi muda cinta pertanian untuk Indonesia yang lebih hijau,” ujarnya. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....