Piala Dunia Jadi Cermin Konflik Global dan Sportivitas
- 27 Mar 2026 05:36 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Gelaran Piala Dunia FIFA 2026 berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Situasi ini memunculkan kembali perdebatan mengenai netralitas olahraga di tengah konflik politik global.
Pengamat sepak bola, Rojil Bayu Aji, menilai bahwa sepak bola, termasuk ajang sebesar Piala Dunia, tidak pernah benar-benar terlepas dari dinamika politik internasional. Meski kerap diposisikan sebagai simbol persatuan, realitas di lapangan menunjukkan adanya tarik menarik kepentingan.
“Piala dunia yang berlangsung di tengah ketegangan konflik Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa olahraga global seperti sepak bola tidak pernah benar-benar netral dari konteks politik. Sepak bola dan piala dunia seringkali menjadi simbol persatuan atau ruang netral yang melampaui politik, memberikan hiburan dan harapan di tengah situasi krisis,” ujarnya.
Ia menegaskan, secara regulasi FIFA mewajibkan tuan rumah menjamin keamanan seluruh peserta tanpa diskriminasi. Namun, isu keamanan yang dikaitkan dengan salah satu negara peserta dinilai berpotensi menimbulkan polemik baru.
“FIFA memiliki aturan bahwa tuan rumah wajib menjamin keamanan seluruh peserta tanpa adanya diskriminasi. Jadi sangat disayangkan apabila Trump menggunakan isu keamanan terhadap Iran dalam Piala Dunia 2026 kali ini,” katanya.
Lebih lanjut, Rojil menyoroti adanya persepsi standar ganda dalam penerapan aturan tersebut. Ia membandingkan dengan kasus Indonesia yang sebelumnya kehilangan status tuan rumah ajang kelompok umur karena penolakan terhadap salah satu peserta.
“Banyak pihak yang menilai ada standar ganda, Indonesia langsung kehilangan status tuan rumah U-20 karena menolak satu negara peserta. Nah ini menjadi ujian bahwasannya publik kini menunggu apakah FIFA akan berani mengambil tindakan tegas yang sama terhadap Amerika Serikat jika diskriminasi dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Iran,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini menjadikan Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga, melainkan juga refleksi dari dinamika politik global yang tengah berlangsung.
“Jadi piala dunia dalam kondisi seperti ini bukan hanya soal olahraga semata, melainkan cermin tarik menarik antara idealisme sportivitas dan realitas politik global yang terjadi di saat ini,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....