Akhir yang Dirindukan Bersama Al-Qur’an

  • 17 Sep 2026 06:22 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Keinginan untuk menghabiskan sisa usia dengan Al-Qur’an mengantarkan Ibu Netty Harjantien pada sebuah akhir kehidupan yang penuh makna. Di tengah kondisi kesehatan yang terus menurun, ia tetap berusaha belajar membaca Al-Qur’an hingga napas terakhirnya berhenti ketika sedang mengaji.

Keinginan tersebut pertama kali disampaikan Ibu Netty kepada adiknya, Ibu Lenny, yang sebelumnya telah mengikuti program belajar ngaji privat di Griya Al Qur’an. “Beliau ingin mengisi hari-hari senjanya dengan Al-Qur’an,” tutur Ibu Lenny.

Keinginan itu kemudian diwujudkan dengan mendaftarkan Ibu Netty dalam program belajar privat Griya Al Qur’an. Ibu Lenny secara langsung meminta agar kakaknya mendapatkan pengajar yang sabar dan telaten serta mampu memahami kondisi kesehatannya.

Setelah melalui masa penyesuaian dan pergantian pengajar pada dua pertemuan pertama, Ibu Netty akhirnya belajar bersama Ustadzah Husna. Tahsin dilakukan rutin setiap akhir pekan, dan keduanya kemudian membangun ikatan guru dan murid yang tidak sekadar berlangsung dalam proses pembelajaran.

Kondisi kesehatan Ibu Netty yang semakin melemah tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Dari yang semula mengaji sambil duduk, ia tetap melanjutkan pembelajaran dari ruang perawatan hingga di atas kasur ICU.

Ustadzah Husna mengenang Ibu Netty sebagai sosok yang memberikan teladan dalam ketekunan belajar. “Saya takzim kepada beliau. Beliau penuh teladan dan berilmu,” kenangnya.

Ibu Netty memiliki satu keinginan yang terus ia perjuangkan, yakni menyelesaikan bacaan Al-Qur’an hingga juz 30, meskipun ketika itu bacaannya baru mencapai juz 24. “Bagaimana nanti saya ditanya di akhirat, kok baca Al-Qurannya nggak sampai selesai-selesai?” ucapnya, sebuah kalimat yang membekas bagi Ustadzah Husna.

Namun perjalanan tilawah tersebut berhenti di juz 27, tepatnya halaman 537. Pada hari terakhirnya, Ibu Netty masih sempat membaca Al-Qur’an selama sekitar lima menit dengan didampingi Ustadzah Husna, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Ustadzah Husna juga mengingat pesan Ibu Netty agar dirinya tetap didoakan supaya istiqomah belajar meski dalam kondisi sakit. “Aku berusaha sampai akhir hayatku terus belajar, terutama belajar tentang Islam,” demikian pesan yang kini menjadi kenangan sekaligus pelajaran.

Kisah Ibu Netty kemudian dikenang oleh keluarga, Griya Al Qur’an, dan orang-orang yang mengenalnya sebagai perjalanan seorang pembelajar yang tidak berhenti meski usia dan kesehatan membatasi. Dalam ta'ziyah, Kepala Sekolah SLB yang lembaganya dahulu diinisiasi ayah almarhumah, Pak Nur Hadi, turut memberikan kesaksian, “Saya saksi hidup. Orang baik akhirnya pasti baik.” **Semoga Allah ﷻ menerima seluruh ikhtiar Ibu Netty, mengampuni kekhilafannya, menerima amal ibadahnya, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dan syafaat baginya. Al-Fatihah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....