Pakar UNAIR: Tiket Konser Sold Out Bukan Indikator Daya Beli
- 15 Sep 2026 11:09 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Tiket konser mahal yang cepat habis belum tentu menunjukkan daya beli masyarakat Indonesia sedang tinggi. Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan FEB UNAIR Prof Dr Gancar Candra Premananto menjelaskan fenomena tersebut.
Menurut Gancar, tiket konser yang sold out lebih berkaitan dengan fanatisme dan loyalitas konsumen. Kondisi itu tidak semata-mata mencerminkan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.
“Bukan masalah daya beli tinggi. Namun, lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar,” ujar Gancar, Selasa, 15 September 2026. Menurutnya, penggemar rela melakukan berbagai cara untuk membeli tiket konser.
Upaya tersebut termasuk berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online. “Seperti berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online (pinjol),” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR tersebut.
Gancar menilai konser menjadi bentuk self-reward bagi penggemar. Pertunjukan yang jarang digelar dianggap layak menjadi prioritas.
“Bagi mereka, pertunjukan yang belum tentu terjadi setahun sekali tersebut layak menjadi prioritas,” ucapnya. Ia menilai anggapan tiket konser sold out menunjukkan ekonomi nasional baik merupakan ilusi.
Konsumsi tiket hiburan mahal termasuk pemenuhan kebutuhan tersier. “Pemenuhan kebutuhan tersier yang dilakukan saat ini merupakan bentuk konsumsi dengan short-term orientation,” katanya.
Menurut Gancar, ketidakpastian ekonomi jangka panjang membuat konsumen memilih kebahagiaan dalam waktu dekat. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat tetap membeli hiburan mahal.
Dari sisi makroekonomi, tiket konser mahal tidak otomatis mencerminkan kondisi ekonomi nasional. Indikator ekonomi seperti inflasi dan pengangguran memiliki cakupan yang jauh lebih luas.
Gancar menyebut jumlah pembeli tiket konser hanya mewakili sebagian kecil populasi Indonesia. Fenomena tersebut disebut sebagai bubble effect.
“Kapasitas stadion besar seperti GBK atau JIS mampu menampung 70 hingga 80 ribu penonton. Jumlah tersebut bahkan tidak sampai satu persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa,” ujarnya.
Menurut Gancar, pembeli tiket konser umumnya berasal dari kelompok konsumen dengan loyalitas sangat tinggi. Segmentasi tersebut tidak dapat mewakili seluruh masyarakat Indonesia.
“Porsinya sangat kecil dan sama sekali tidak merepresentasikan kondisi seluruh penduduk Indonesia,” katanya. Meski demikian, konsumsi hiburan tetap dapat memberikan dampak ekonomi tertentu bagi daerah.
Fenomena tersebut dapat meningkatkan destination awareness dan aktivitas ekonomi secara sporadis. Gancar mengimbau masyarakat tetap bijak mengelola keuangan di tengah tren hiburan berbiaya tinggi.
Orientasi jangka pendek tetap perlu diimbangi perencanaan keuangan jangka panjang. “Sosialisasi dan literasi berinvestasi untuk produk-produk primer dan sekunder jangka panjang tetap perlu diperhatikan,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....