Istiqamah Beribadah Butuh Komitmen dan Kesungguhan
- 15 Sep 2026 07:05 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Istiqamah dalam beribadah membutuhkan komitmen dan kesungguhan untuk tetap menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Hal tersebut disampaikan Ustaz Toha Dai Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya, dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya, Selasa, 15 September 2026.
Ustaz Toha menjelaskan, Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada seorang sahabat yang meminta nasihat tentang agama agar tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain. Rasulullah SAW kemudian memberikan jawaban agar beriman kepada Allah dan bersikap istiqamah.
“Rasulullah mengatakan, katakanlah aku beribadah kepada Allah dan bersifat istiqamah. Kalimat istiqamah menunjukkan sesuatu yang sangat berat, maka pahalanya juga sangat besar,” ujar Ustaz Toha.
Menurut Ustaz Toha, istiqamah memiliki makna tegak lurus. Sikap tersebut menunjukkan keteguhan seseorang untuk tetap berada pada jalan yang benar dan tidak mudah menyimpang dari keyakinannya.
“Apa sih istiqamah itu? Istiqamah berasal dari kata yang artinya tegak lurus. Dalam KBBI diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen,” ujarnya.
Ustaz Toha menerangkan, dalam pengertian terminologi, istiqamah berkaitan dengan kemurnian tauhid. Artinya, seorang Muslim harus menjaga keyakinan kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan siapa pun.
Ia juga menjelaskan, istiqamah dapat dimaknai sebagai komitmen untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Umar bin Khattab mengenai sikap istiqamah yang berkaitan dengan komitmen terhadap perintah dan larangan Allah SWT.
“Istiqamah juga bisa diartikan sebagai ketaatan pada yang kita yakini benar. Jadi, ketika kita sudah meyakini sesuatu itu benar, maka kita harus memiliki komitmen untuk melaksanakannya,” ujar Ustaz Toha.
| Baca juga: Baiatul Aqabah Ajarkan Kepedulian Sosial |
Untuk menjaga keistiqamahan, Ustaz Toha menyebut lima langkah yang dapat dilakukan, yakni mu’ahadah, mujahadah, muraqabah, muhasabah, dan mu’aqabah. Mu’ahadah merupakan upaya memperbarui komitmen kepada Allah SWT.
Salah satunya dengan mengingat kembali syahadat sebagai bentuk peneguhan iman dan tauhid. Mujahadah berarti bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu dan berjuang menjalankan ketaatan.
Muraqabah merupakan kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi setiap ucapan dan perbuatan manusia. Sementara muhasabah dilakukan dengan mengevaluasi diri atas ibadah dan perilaku yang telah dilakukan.
Adapun mu’aqabah merupakan bentuk konsekuensi atau sanksi terhadap diri sendiri ketika melakukan kesalahan atau keteledoran. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki diri agar kesalahan tidak terus berulang.
| Baca juga: Radio, Gelombang yang Mengikat Kebersamaan |
“Kalau kita ingin istiqamah, kita harus terus melakukan evaluasi terhadap diri. Kita harus melihat kembali apa yang sudah kita lakukan, apa yang kurang, kemudian bagaimana kita memperbaikinya. Jadi istiqamah itu membutuhkan proses dan kesungguhan,” kata Ustaz Toha.
Pentingnya istiqamah juga ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 112. Ayat tersebut memerintahkan umat Islam untuk tetap berada di jalan yang benar dan tidak melampaui batas.
Ustaz Toha menekankan, istiqamah bukan hanya persoalan banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi bagaimana seorang Muslim mampu mempertahankan ketaatan secara konsisten.
“Yang penting bukan hanya kita mengetahui mana yang benar, tetapi bagaimana kita tetap taat terhadap apa yang kita yakini benar. Itulah yang membutuhkan istiqamah,” tuturnya mengakhiri tausiyah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....