Suko Widodo: Transformasi RRI Harus Mendengar Suara Warga
- 11 Sep 2026 11:47 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Transformasi RRI memerlukan perubahan fundamental dalam cara mencari dan mengelola berita, tidak sekadar pembaruan platform dan teknologi.
- RRI perlu mengubah cara media melihat persoalan publik agar tidak hanya berpusat pada informasi dari pemerintah.
- Ketua ISKI Jawa Timur Suko Widodo menekankan perlunya pendekatan jurnalistik yang lebih independen dan beragam dalam sumber informasi.
RRI.CO.ID, Surabaya - Transformasi RRI, menurut Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur Suko Widodo, tidak cukup dilakukan dengan memperbarui platform dan teknologi. Ada hal yang lebih mendasar bagaimana RRI bekerja mencari berita.
Suko menjelaskan salah satu yang perlu diubah adalah cara media melihat sebuah persoalan publik. Suko mengingatkan agar RRI tidak menjadikan pemerintah sebagai satu-satunya pusat informasi.
Ia mengambil contoh ketika media memberitakan penertiban pedagang kaki lima.“Jangan Pemkot nya saja, jangan pemerintahnya, tapi warga juga penting,” kata Suko.
Bagi Suko, pedagang kecil dan warga yang terdampak kebijakan juga merupakan sumber informasi penting. Mereka memiliki pengalaman langsung atas sebuah kebijakan yang tidak selalu terlihat dari keterangan pejabat.
Karena itu, tugas RRI bukan hanya mendatangi sumber yang mudah ditemui dan memiliki kewenangan berbicara.RRI juga harus mencari mereka yang suaranya tidak otomatis masuk ke ruang pemberitaan.
“RRI harus mampu mendengarkan suara yang tidak dibunyikan,” ujarnya.
Persoalannya, tidak semua warga memiliki akses yang sama untuk menyampaikan pendapat melalui radio. Karena itu, menurut Suko, wartawan lah yang harus datang.
“Tidak semua orang itu bisa telepon. Hadir kita tanyakan mereka,” ujarnya.
Kehadiran tersebut membuat kerja jurnalistik tidak berhenti pada mencari pernyataan, tetapi memahami persoalan secara langsung.
Di sinilah, menurut Suko, fungsi media publik diuji. RRI tidak hanya dituntut mampu menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga mampu menemukan persoalan yang belum terdengar dan membawa persoalan itu ke ruang publik.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan RRI bukan hanya berapa banyak orang yang mendengarkan atau platform apa yang digunakan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa dekat RRI dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat?
Bagi Suko, ketika jurnalis RRI hadir dan ikut mengangkat persoalan publik dari lapangan, di situlah keberadaan media publik benar-benar terasa.“Ketika orang RRI hadir mengerjakan persoalan publik, itu keren,” kata Suko.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....