Mengenal Lebih Dekat Pengendali Iklim di Indonesia

  • 08 Sep 2026 12:39 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Timur Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk memahami berbagai faktor yang memengaruhi dinamika cuaca dan iklim di wilayah Indonesia. Pemahaman ini dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi perubahan iklim ekstrem serta mitigasi bencana hidrometeorologi.

Sebagai negara kepulauan yang terletak di lintang tropis, Indonesia memiliki iklim yang unik dan dinamis. Terapit oleh dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudera besar (Hindia dan Pasifik), kondisi cuaca di tanah air dipengaruhi oleh interaksi fenomena atmosfer dan lautan sepanjang tahun.

Berdasarkan penjelasan resmi dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur yang di unggah di media sosial @bmkg.iklimjatim, terdapat empat faktor utama pengendali iklim di Indonesia yang saling berinteraksi:

Fenomena ENSO (El Niño – Southern Oscillation)

ENSO merupakan fenomena alami di Samudera Pasifik tropis yang terjadi secara berkala dalam rentang 2 hingga 7 tahun. Fenomena ini memiliki dua fase utama:

La Niña (Fase Dingin): Terjadi ketika suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur lebih dingin dari kondisi normal. Kondisi ini meningkatkan pembentukan awan dan curah hujan di Indonesia, yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor, namun bermanfaat bagi ketersediaan air pertanian.

El Niño (Fase Hangat): Terjadi saat suhu muka laut di Pasifik memanas, memicu penurunan curah hujan di Indonesia. Dampaknya meliputi potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta penurunan pasokan air bersih.

Pergerakan Angin Monsun (Barat dan Timur)

Sirkulasi angin Monsun berganti arah setiap enam bulan sekali akibat perbedaan pemanasan antara daratan dan lautan. Pola ini menjadi penentu utama pergantian musim di Indonesia:

Monsun Barat (November – Maret): Angin bertiup dari benua Asia menuju Australia dengan membawa banyak uap air dari lautan, menandai berlangsungnya musim hujan.

Monsun Timur (Mei – September): Angin bertiup dari benua Australia yang kering menuju Asia, membawa sedikit uap air sehingga menyebabkan masuknya musim kemarau.

Indian Ocean Dipole (IOD)

IOD merupakan fenomena perbedaan suhu permukaan laut antara wilayah barat Samudera Hindia (dekat pantai Afrika) dan wilayah timur (dekat perairan Indonesia). Fenomena ini kerap mencapai puncaknya pada periode Agustus hingga Oktober:

IOD Positif: Suhu laut di bagian barat lebih hangat dibanding timur, menyebabkan curah hujan bergeser ke Afrika sehingga wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan (kondisi lebih kering).

IOD Negatif: Suhu laut di perairan Indonesia lebih hangat dibanding bagian barat, memicu peningkatan pembentukan awan dan curah hujan di tanah air (kondisi lebih basah).

Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature / SST)

Sebagai negara maritim, kondisi perairan Indonesia memegang peranan vital. Suhu Muka Laut (SST)—yang diukur menggunakan pelampung otomatis (buoy), sensor satelit, dan kapal penelitian—sangat memengaruhi pembentukan awan hujan.

SST Sangat Hangat (> 30°C): Menyimpan energi tinggi yang berpotensi memicu timbulnya hujan lebat hingga badai atau siklon tropis.

SST Normal (26 – 28°C) hingga Dingin (< 26°C): Kondisi laut relatif seimbang atau mengurangi potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tertentu.

BMKG menekankan bahwa pemahaman terhadap keempat faktor pengendali iklim ini sangat berpengaruh pada berbagai sektor strategis, seperti pertanian, perikanan, penerbangan, transportasi laut, hingga pengelolaan pasokan air bersih.

Pihak BMKG meminta masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus memantau informasi perkembangan cuaca dan iklim dari sumber resmi, serta menyesuaikan jadwal aktivitas dan pola tanam guna meminimalkan risiko bencana alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....