Erupsi Empat Gunung Api Cerminkan Dinamika Ring of Fire

  • 07 Sep 2026 18:19 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Erupsi simultan empat gunung api Indonesia pada 6 September 2026 dinilai mencerminkan dinamika vulkanik di kawasan Ring of Fire. Keempat gunung tersebut ialah Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mengatakan fenomena tersebut berkaitan dengan kompleksitas tektonik Indonesia. Wilayah Indonesia berada di zona pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.

Menurutnya, Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina mengalami proses penunjaman di bawah Lempeng Eurasia. Kondisi tersebut membentuk banyak sistem gunung api aktif di berbagai wilayah Indonesia.

Meski aktivitas keempat gunung terjadi dalam waktu berdekatan, Daryono menegaskan tidak terdapat hubungan langsung antardapur magma. Tidak ada jalur pipa atau jaringan saluran magma tunggal yang menghubungkan gunung-gunung tersebut.

"Erupsi yang terjadi bersamaan ini murni dikarenakan masing-masing sistem vulkanik memang telah berada pada tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma di dalamnya," kata Daryono, Senin, 7 September 2026. Daryono menjelaskan perbedaan tinggi kolom abu menunjukkan variasi dinamika pada setiap erupsi.

Faktor tersebut dipengaruhi viskositas magma, kandungan gas, dan kekuatan tekanan dalam saluran kawah. Erupsi Anak Krakatau menjadi perhatian karena material vulkaniknya berdampak hingga sejumlah wilayah.

Abu dilaporkan mencapai Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Menurut Daryono, kondisi itu mengindikasikan material erupsi Anak Krakatau terlontar hingga lapisan troposfer.

Material tersebut kemudian dapat didistribusikan oleh sirkulasi angin regional, termasuk angin monsun. Sementara itu, tinggi kolom abu Semeru mencapai sekitar 1.000 meter.

Kolom abu Ili Lewotolok mencapai sekitar 600 meter dan Gunung Ibu sekitar 400 meter. Daryono menilai ketiga erupsi tersebut memiliki intensitas energi yang lebih terlokalisasi.

Tinggi kolom abu dipengaruhi tekanan gas dan gaya apung termal saat material berinteraksi dengan udara. Ia mengatakan karakter abu dan lontaran material juga ditentukan komposisi kimia magma.

Kandungan silika serta unsur volatil, seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida, turut memengaruhi sifat erupsi. "Magma dengan viskositas tinggi dan kadar gas melimpah cenderung menghasilkan fenomena eksplosif yang memecah magma menjadi partikel abu vulkanik halus," ujarnya.

Partikel abu berukuran sangat kecil tersebut dapat bergerak jauh mengikuti arah angin troposfer. Karena itu, wilayah terdampak abu dapat berada jauh dari pusat erupsi.

Sebaliknya, magma yang lebih cair atau memiliki sistem saluran terbuka memungkinkan tekanan gas terlepas secara bertahap. Kondisi tersebut menghasilkan kolom erupsi berskala menengah dan dampak lebih terlokalisasi.

Daryono menegaskan erupsi empat gunung api secara bersamaan tidak dapat dimaknai sebagai satu rangkaian sistem magma. Setiap gunung memiliki karakteristik dan dinamika vulkaniknya masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....