Aktivitas Anak Krakatau Masih Siaga, Erupsi Menerus Terjadi
- 05 Sep 2026 12:43 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi menerus disertai suara gemuruh pada Jumat malam. Hingga Sabtu dini hari, aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih berlangsung.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan erupsi menerus teramati sejak Jumat, 5 September 2026, pukul 23.07 WIB. Hingga pukul 04.40 WIB, semburan erupsi dan suara gemuruh masih terpantau dari Pos PGA Krakatau Pasauran.
“Warna merah menyala dari semburan erupsi terlihat jelas secara menerus,” ujar Lana dalam keterangan resminya, Sabtu, 5 September 2026. Menurutnya, fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava.
Erupsi menerus selama beberapa jam yang berasosiasi dengan lava air mancur merupakan fenomena umum pada aktivitas gunung api. Lana menyebut suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah diduga berkaitan dengan aktivitas tersebut.
Laporan itu berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda.
Secara administratif, kawasan tersebut termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos pengamatan.
Kedua pos tersebut berada di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Dalam catatan sejarah, erupsi besar Krakatau pada 1883 pernah memicu tsunami dahsyat.
Sementara itu, aktivitas pada 22 Desember 2018 juga menyebabkan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau dan tsunami Selat Sunda. Setelah peristiwa 2018, Anak Krakatau mengalami serangkaian erupsi berskala rendah hingga 16 Desember 2023.
Aktivitas tersebut merupakan bagian dari fase pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau. Setelah mengalami jeda erupsi cukup lama, aktivitas vulkanik kembali terjadi pada 2 Juli 2026.
Sejak saat itu, status Gunung Anak Krakatau ditetapkan pada Level III atau Siaga. Seri erupsi bertipe Strombolian terus berlangsung hingga 5 September 2026.
Aktivitas tersebut menghasilkan lontaran batu pijar dan material abu vulkanik. Berdasarkan hasil evaluasi terbaru, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil.
Kondisi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. “Perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif,” kata Lana.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Ancaman utama erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.
Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan tidak memasuki wilayah radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Larangan tersebut berlaku bagi masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Sementara itu, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diminta tetap tenang. Mereka tetap dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD setempat.
Masyarakat dapat memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Informasi juga tersedia melalui aplikasi Magma Indonesia dan kanal resmi Badan Geologi.
Badan Geologi mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus disampaikan berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi terkini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....