Pakar UNAIR: Aktivitas Anak Krakatau Meningkat, Kesiapsiagaan Harus Diperkuat

  • 10 Sep 2026 22:15 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali meningkat dan memicu kekhawatiran masyarakat terhadap potensi bencana susulan. Pakar Manajemen Bencana UNAIR, Aditya Prana Iswara ST MSc PhD, menilai risiko bencana harus dihadapi dengan kesiapsiagaan berkelanjutan.

Kekhawatiran tersebut mencakup kemungkinan erupsi hingga tsunami yang ramai diperbincangkan melalui media sosial. Menurutnya, potensi tsunami di sekitar Gunung Anak Krakatau tetap ada karena karakteristik geologis Indonesia.

“Kekhawatiran yang muncul sangat dipengaruhi tingkat kesadaran masyarakat. Indonesia berada di antara dua benua dan dua samudera,” katanya.

Aditya mengatakan Indonesia berada pada pertemuan lempeng aktif dengan risiko bencana yang besar. Ia menilai masyarakat dan pemerintah masih cenderung reaktif ketika menghadapi ancaman bencana.

“Kita kerap bersikap reaktif dan baru bertindak ketika bencana sudah memakan korban,” ujar dosen Sekolah Pascasarjana UNAIR tersebut. Terkait sistem peringatan dini atau Early Warning System, Aditya menilai teknologi pemantauan saat ini sudah representatif.

Menurutnya, tantangan utama justru menerjemahkan data saintifik menjadi panduan yang mudah dipahami masyarakat. “Data teknis seperti magnitudo gempa atau curah hujan sering menimbulkan kesalahan informasi,” ujar Aditya.

Pemerintah dan lembaga terkait perlu mengubah data tersebut menjadi instruksi tindakan yang konkret bagi masyarakat. Misalnya, membatasi aktivitas luar ruangan akibat abu vulkanik atau memberikan panduan evakuasi secara terukur.

Aditya juga menyoroti dampak abu vulkanik terhadap kesehatan, khususnya gangguan pada saluran pernapasan. Menurutnya, pemerintah dan sektor swasta harus menggunakan data ilmiah sebagai dasar kebijakan perlindungan warga.

“Jika konsentrasi abu melebihi ambang aman, pemangku kebijakan harus memperhatikan kesehatan pekerja,” ucapnya. Ia menyarankan pembatasan mobilitas sementara serta penggunaan masker dan alat pelindung diri bagi pekerja lapangan.

Dalam mitigasi bencana, Aditya menilai pencegahan dan edukasi harus diperkuat sebelum bencana terjadi. “Langkah paling krusial adalah memasukkan kurikulum penanggulangan bencana ke sistem pendidikan formal sejak usia dini,” katanya.

Menurut Aditya, Indonesia dapat belajar dari Jepang dalam membangun kapasitas masyarakat menghadapi risiko bencana. Ia berharap peningkatan pengetahuan masyarakat mampu menekan risiko dan jumlah korban ketika bencana terjadi.

Aditya juga mengimbau masyarakat tidak mudah panik menghadapi informasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta lebih selektif mengonsumsi informasi dan mengikuti perkembangan dari sumber resmi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....