Miftachul Akhyar Didorong Kembali Jadi Rais Aam NU

  • 28 Agt 2026 08:37 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Jombang - Dukungan agar KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU mengemuka di tengah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang. Sejumlah pengurus NU daerah menilai Miftachul memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman untuk menjaga persatuan serta marwah organisasi.

Salah satu dukungan datang dari Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Batu Bara, M. Ridwan Butar-Butar. Ia berharap Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran Syuriyah PBNU.

“Harapan kami KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU. Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU,” kata Ridwan, Jumat, 28 Agustus 2026.

Menurutnya, posisi Rais Aam tidak hanya membutuhkan kapasitas keilmuan, tetapi juga kemampuan menjaga organisasi tetap berada pada jalur perjuangan dan tidak terseret kepentingan politik praktis. “Kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi. Kami melihat KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas tersebut,” katanya tegas.

Nama Miftachul Akhyar sendiri bukan sosok baru dalam kepemimpinan NU. Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu memiliki rekam jejak panjang dalam tradisi keilmuan pesantren. Ia menimba ilmu sejak usia delapan tahun di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, kemudian melanjutkan pendidikan ke Rejoso Darul Ulum, Sidogiri, Al-Islah Soditan Lasem, hingga berguru kepada Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

Rekam jejak tersebut menjadi salah satu alasan Miftachul dipandang sebagai figur yang dapat menjaga peran Syuriyah sekaligus tradisi keulamaan NU memasuki abad keduanya. Sikapnya terhadap jabatan juga pernah menjadi sorotan. Pada 2022, Miftachul memilih mundur dari posisi Ketua Umum MUI dengan alasan ingin lebih fokus menjalankan pengabdian dan menghindari rangkap jabatan.

Di internal NU, Miftachul juga dikenal menegaskan posisi Syuriyah ketika organisasi menghadapi persoalan kepemimpinan. Sikap tersebut kemudian mendapat dukungan dari sejumlah pengurus wilayah hingga mendorong percepatan pelaksanaan Muktamar ke-35.

Menjelang muktamar, Miftachul juga memimpin istighosah yang diikuti ribuan nahdliyin. Pesan yang dibawanya konsisten pada upaya menjaga persatuan dan marwah organisasi.

Pada pembukaan Muktamar ke-35 di Tambakberas, Miftachul kembali tampil dalam posisi sentral. Dalam Khutbah Iftitah yang disampaikan dalam bahasa Arab, ia mengingatkan para muktamirin mengenai bahaya fitnah sebagai kondisi ketika kebenaran dan kebatilan bercampur.

Ia juga menyampaikan tiga kegembiraan, yakni kelahiran Nabi Muhammad SAW, 81 tahun kemerdekaan Indonesia, serta terselenggaranya Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, pesantren yang memiliki kaitan erat dengan sejarah pendirian NU melalui KH Abdul Wahab Hasbullah.

Pengabdian Miftachul sebelumnya juga mendapat pengakuan negara. Pada 2025, ia menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden. Kini, di tengah proses Muktamar ke-35 NU, dukungan untuk kembali mengemban amanah sebagai Rais Aam menjadi salah satu dinamika yang ikut mewarnai bursa kepemimpinan NU.

Bagi para pendukungnya, pengalaman, kapasitas keulamaan, dan sikap menjaga jarak dari kepentingan politik praktis menjadi modal penting bagi Miftachul untuk kembali memimpin Syuriyah PBNU.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....