Amien Widodo Tekankan Kemandirian Hadapi Bencana

  • 25 Agt 2026 22:30 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Pakar Kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Amien Widodo, mendorong masyarakat memperkuat kemandirian menghadapi bencana. Menurut Amien, kemandirian penting setelah gempa NTT menyebabkan banyak wilayah terdampak mengalami keterbatasan akses bantuan.

“Desa terisolasi harus berdaya sendiri sebab bantuan dari luar membutuhkan waktu lama,” ujar Amien, Selasa, 25 Agustus 2026. Berdasarkan data per 24 Agustus 2026, korban meninggal dunia mencapai 100 orang dan 1.603 orang luka-luka.

Jumlah pengungsi mencapai 180.327 orang, sementara rumah rusak tercatat 73.818 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23.276 rumah mengalami kerusakan berat akibat gempa NTT.

Amien menyebut gempa susulan masih terjadi hingga Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 05.00 WIB. BMKG mencatat sebanyak 7.029 gempa susulan, dengan gempa terbesar mencapai magnitudo 6,2.

Sebanyak 32 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5, sehingga bangunan retak masih berpotensi membahayakan. “Ini berarti rumah-rumah yang retak-retak masih berbahaya,” ujarnya.

Selain gempa, bencana tersebut memicu gerakan tanah pascagempa Flores di sejumlah wilayah terdampak. Amien menyebut terdapat 101 titik gerakan tanah yang teridentifikasi pascagempa NTT.

Seluruh titik gerakan tanah tersebut berada di jalur transportasi umum dan mengganggu akses masyarakat. “Banyak desa terisolasi,” katanya.

Menurut Amien, kerusakan infrastruktur akibat bencana alam membuat sejumlah wilayah sulit dilalui kendaraan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemberdayaan desa agar mampu bertahan ketika akses bantuan terputus.

Ia menilai masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menyelamatkan diri. Amien merujuk hasil survei korban selamat gempa Kobe, Jepang, pada 1995 mengenai sumber pertolongan pertama.

Sebanyak 35 persen korban selamat karena menyelamatkan diri secara mandiri atau bergantung pada kemampuan sendiri. Kemudian, 32 persen korban selamat berkat pertolongan keluarga dan 28 persen karena bantuan tetangga.

"Sisanya lima persen berkat pertolongan dari luar seperti BPBD, SAR, PMI, dan lainnya,” ucap Amien. Menurutnya, data tersebut menunjukkan penyelamatan mandiri bersama keluarga mencapai 67 persen.

Karena itu, seluruh anggota keluarga perlu memahami ancaman bencana di lingkungan tempat tinggalnya. Pengetahuan tersebut harus dimiliki semua anggota keluarga, termasuk lansia, balita, dan penyandang disabilitas.

“Sebagai keluarga harus bahu-membahu dan saling mengingatkan saat kondisi darurat,” katanya. Amien menilai pemahaman masyarakat sekitar juga penting karena tetangga dapat berkontribusi dalam penyelamatan.

Dengan pengetahuan kebencanaan, individu, keluarga, dan komunitas dapat meningkatkan kemampuan bertahan saat bencana. “Setiap orang, setiap keluarga, dan setiap kampung harus sadar ancaman bencana di sekitarnya,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....