Jejak Sejarah Makanan Pokok Indonesia dari Kolonial hingga Orde Baru

  • 25 Agt 2026 07:05 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID - Program Ngobras yang dipandu Joe Yuanda pada Senin, 24 Agustus 2026, menghadirkan Fuad dan Stevia dari Kasta Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UNAIR. Diskusi mengangkat sejarah makanan pokok masyarakat Indonesia, khususnya perjalanan nasi hingga menjadi makanan yang paling populer, mulai era pra-kolonial, masa penjajahan, hingga pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru.

Sebelum nasi menjadi makanan pokok, masyarakat di berbagai daerah Indonesia memiliki sumber pangan yang disesuaikan dengan kondisi alam dan budaya masing-masing. Jawa Barat, misalnya, mengenal konsumsi sayur-sayuran dan lalapan, sementara sejumlah wilayah Sumatera mengandalkan umbi-umbian. Di Sumatera bagian utara, masyarakat juga memanfaatkan daging buruan serta rempah-rempah sebagai bagian dari sumber pangan.

Stevia menjelaskan, tanaman padi sebenarnya sudah dikenal di Nusantara sejak era pra-kolonial melalui aktivitas perdagangan. “Tanaman padi awalnya dibawa oleh pedagang Tiongkok dan India. Tetapi pada masa itu, masyarakat Indonesia masih banyak mengonsumsi umbi-umbian,” jelasnya dalam program Ngobras. Menurutnya, keberadaan padi ketika itu belum otomatis menjadikan nasi sebagai makanan pokok utama masyarakat.

Popularitas nasi kemudian berkembang pesat pada masa kolonial. Ketika VOC dan pemerintah kolonial hadir, perhatian utama lebih banyak diarahkan pada kepentingan perdagangan, khususnya komoditas rempah. Memasuki abad ke-19, beras mulai digunakan sebagai bagian dari strategi ekonomi dan politik kolonial. “Harga beras diturunkan sangat rendah, sehingga upah buruh tanam paksa yang dibayarkan dengan beras juga menjadi murah. Ini menjadi salah satu strategi untuk mengendalikan masyarakat,” ujar Stevia.

Perkembangan konsumsi nasi semakin kuat setelah diberlakukannya Politik Etis pada 1901. Salah satu kebijakan yang berdampak terhadap persebaran budaya makan nasi adalah transmigrasi, ketika penduduk dari Jawa dipindahkan ke berbagai wilayah seperti Sumatera dan Sulawesi. Bersamaan dengan perpindahan tersebut, kebiasaan menanam dan mengonsumsi padi turut dibawa. Pemerintah kolonial juga mendorong penggunaan bibit unggul dan pembangunan irigasi yang mendukung pengembangan persawahan.

Fuad menambahkan, beras sebenarnya telah dikenal masyarakat di sejumlah kota besar Sumatera dan Sulawesi sebelum program transmigrasi melalui jalur perdagangan, termasuk perdagangan dengan pedagang Tiongkok. Namun, transmigrasi membuat persoalan tersebut berkembang menjadi lebih serius. “Setelah transmigrasi, orang-orang Jawa didorong untuk menanam dan menggarap sawah secara masif. Ini kemudian ikut menggeser makanan lokal di daerah tujuan,” kata Fuad. Menurutnya, kondisi tersebut turut menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai bahan pangan utama.

Sementara itu, Stevia mengungkapkan bahwa pada era Presiden Soekarno sebenarnya terdapat gagasan untuk mempertahankan diversifikasi pangan dan tidak menjadikan masyarakat hanya bergantung pada nasi. Salah satu bukti gerakan tersebut adalah penerbitan buku Mustika Rasa, sebuah kumpulan resep nasional yang memuat sekitar 1.000 halaman dan merangkum kekayaan kuliner Nusantara, mulai Jawa, Sumatera, Sulawesi, Papua, hingga berbagai hidangan hasil akulturasi budaya Indis. “Semangatnya adalah mengenalkan kembali kekayaan pangan lokal agar masyarakat tidak hanya bergantung pada nasi,” ungkap Stevia.

Namun, Fuad menilai gagasan diversifikasi pangan pada masa tersebut belum berjalan maksimal karena situasi politik luar negeri Indonesia yang bergejolak. Berbagai persoalan, termasuk konfrontasi dengan Malaysia, membuat perhatian pemerintah terbagi. “Pada akhirnya, diversifikasi pangan itu lebih banyak menjadi wacana dan belum berjalan secara maksimal karena pemerintah menghadapi banyak persoalan politik pada masa itu,” tutur Fuad.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....