Konservasi dan Wisata Harus Berjalan Seimbang

  • 15 Agt 2026 00:15 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pemanfaatan alam untuk pariwisata perlu diimbangi dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Meningkatnya kunjungan wisatawan tidak boleh membuat daya dukung alam terabaikan, terlebih ketika kawasan hutan dan lingkungan alami semakin banyak dimanfaatkan sebagai destinasi wisata.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan mengatakan pemanfaatan alam, termasuk untuk sektor pariwisata, tetap dapat dilakukan sepanjang fungsi konservasi dan daya dukung lingkungan menjadi pertimbangan utama.

Menurut Patria, pengelola destinasi wisata kerap menghadapi pilihan sulit antara kepentingan ekonomi dan menjaga kelestarian alam. Banyaknya wisatawan memang memberikan manfaat ekonomi, tetapi tekanan kunjungan yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.

Karena itu, pengelolaan wisata alam perlu mempertimbangkan kemampuan kawasan dalam menerima kunjungan. Salah satunya dengan memberikan jeda waktu agar lingkungan memiliki kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan kondisi ekosistemnya.

“Ekonomi dan konservasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan, bagaimana fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi dapat berjalan sesuai peruntukannya,” ujar Patria saat diwawancarai RRI Surabaya, Rabu 12 Agustus 2026.

Data BBKSDA Jawa Timur dalam Laporan Kinerja 2025 menunjukkan terdapat 26 kawasan konservasi di wilayah kerja BBKSDA Jatim dengan total luas sekitar 30.741 hektare. Kawasan tersebut terdiri atas cagar alam, suaka margasatwa, dan taman wisata alam.

BBKSDA Jatim juga melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pemanfaatan wisata alam untuk memastikan kegiatan pariwisata tetap memenuhi aspek administrasi, teknis, serta ketentuan konservasi. Patria menilai tantangan pelestarian alam semakin besar seiring meningkatnya pemanfaatan kawasan alami sebagai destinasi wisata.

Perubahan fungsi lahan, hutan, maupun kawasan alam yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan dikhawatirkan meningkatkan tekanan terhadap ekosistem. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi memicu persoalan lain yang pada akhirnya merugikan masyarakat, termasuk risiko bencana.

Di sisi lain, Ketua Komunitas Baladaun Mertasari, Kariadi, menilai masyarakat adat memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan alam. Kedekatan dengan lingkungan membuat masyarakat adat memiliki pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai yang mengatur bagaimana alam seharusnya dimanfaatkan.

Menurutnya, keberadaan masyarakat adat tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan. Tradisi dan aturan adat dapat menjadi batas agar pemanfaatan alam tidak dilakukan secara berlebihan.

“Masyarakat adat itu punya fungsi untuk menjaga keseimbangan alam. Ada tradisi, ada adat, ada budaya yang mengajarkan bagaimana kita memperlakukan alam dan apa yang boleh maupun tidak boleh dilakukan terhadap lingkungan,” ujar Kariadi.

Ia mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak berhenti pada aktivitas menikmati keindahan alam. Setiap orang yang datang ke kawasan wisata memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari.

Ia menilai kerusakan alam pada akhirnya akan kembali berdampak kepada manusia, mulai dari berkurangnya sumber air hingga munculnya berbagai persoalan lingkungan lainnya. “Kalau kita tidak menjaga alam, dampaknya akan kembali kepada kita. Semakin sering kita menjaga alam, semakin baik kita memperlakukan alam, maka kita bisa hidup lebih lama dan menikmati lingkungan yang lebih baik,” katanya.

Upaya pelestarian tersebut juga dilakukan komunitas Baladaun Mertasari melalui kegiatan penghijauan dan edukasi lingkungan. Pemerintah Kabupaten Pasuruan mencatat, pada Juni 2025 komunitas tersebut bersama sejumlah pihak menanam sekitar 3.000 bibit cemara gunung di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, sekaligus memelihara 2.000 pohon yang sebelumnya telah ditanam. Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 300 warga.

Bagi Kariadi, alam bukan sekadar sumber ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Hutan, sumber air, tanah, dan lingkungan merupakan bagian dari kehidupan yang juga memiliki hak untuk dinikmati oleh generasi berikutnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak memandang alam semata sebagai warisan yang akan diberikan kepada anak cucu, tetapi sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga keberlangsungannya agar tetap dapat dinikmati bersama.

Pesan menjaga keseimbangan tersebut menjadi semakin penting di tengah berkembangnya pariwisata berbasis alam di Jawa Timur. Keberhasilan destinasi wisata tidak semestinya hanya diukur dari jumlah pengunjung dan manfaat ekonomi, tetapi juga dari kemampuan kawasan mempertahankan fungsi ekologisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....