BMKG Juanda: Modifikasi Cuaca Tak Bisa Dilakukan Sembarangan
- 12 Agt 2026 11:51 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Upaya mengatasi kebakaran di kawasan Gunung Bromo tidak serta-merta dapat dilakukan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendatangkan hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan potensial.
Penjelasan tersebut disampaikan melalui edukasi BMKG Juanda bersama BPBD Jawa Timur melalui unggahan di media sosial @infobmkgjuanda, menyusul banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai alasan hujan buatan tidak langsung dilakukan untuk membantu pemadaman kebakaran di kawasan Bromo.
BMKG menjelaskan, OMC bukan berarti dapat menciptakan hujan dari langit yang benar-benar cerah. Teknologi tersebut membutuhkan keberadaan awan yang memiliki kandungan uap air cukup, sebagai bahan dasar untuk diproses agar hujan dapat turun.
Pada kondisi puncak musim kemarau, udara cenderung lebih kering dengan kelembapan rendah. Kondisi atmosfer juga relatif stabil sehingga pembentukan awan potensial menjadi lebih sulit. Situasi tersebut semakin menjadi tantangan ketika dipengaruhi fenomena iklim seperti El Nino.
Dalam kondisi tidak terdapat awan potensial, penyemaian awan melalui OMC tidak dapat dilakukan secara efektif. Garam atau bahan semai yang digunakan dalam proses OMC juga bukan untuk menciptakan awan, melainkan membantu proses di dalam awan yang sudah memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.
Karena itu, BMKG menegaskan bahwa keterbatasan peluang OMC bukan berarti tidak ada upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi kebakaran. Langkah yang tetap penting dilakukan adalah pemantauan kondisi cuaca dan atmosfer, pencegahan meluasnya kebakaran, serta penanganan langsung di lapangan oleh petugas dan relawan.
Kawasan Bromo juga ditutup total sebagai bagian dari langkah keselamatan di tengah kondisi kebakaran. Masyarakat diimbau mematuhi aturan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pembakaran sembarangan.
BMKG dan BPBD Jawa Timur mengajak masyarakat untuk turut membantu petugas dan relawan dengan tidak melakukan pembakaran terbuka, mematuhi ketentuan yang berlaku, serta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca maupun kondisi kebakaran.
Taufiq Hermawan, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo juga mengingatkan pentingnya memahami karakteristik cuaca saat puncak musim kemarau. Ketiadaan awan potensial menjadi salah satu alasan mengapa hujan tidak bisa begitu saja dihadirkan melalui modifikasi cuaca.
Dengan demikian, OMC merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan ketika kondisi atmosfer mendukung, bukan metode yang dapat digunakan kapan saja dan di semua kondisi cuaca. Pemantauan, pencegahan, dan penanganan cepat di lapangan tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....