Sleepmaxxing Tren Tidur Sehat atau Sekadar Hype
- 08 Agt 2026 20:06 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya- Media sosial beberapa bulan terakhir diramaikan dengan tren sleepmaxxing. Tren ini mengajak masyarakat mencoba berbagai cara untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas, mulai dari menggunakan sleep tracker, mengonsumsi magnesium, memakai mouth tape, hingga mengonsumsi buah kiwi sebelum tidur. Fenomena tersebut turut menarik perhatian karena tidur menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental.
Dilansir dari laman Female Daily, sleepmaxxing merupakan istilah untuk menggambarkan berbagai kebiasaan, rutinitas, gadget, maupun metode yang bertujuan mengoptimalkan kualitas dan durasi tidur. Istilah ini populer di TikTok sebagai “versi tidur” dari tren looksmaxxing, dengan tujuan membantu seseorang tidur lebih cepat, lebih lama, lebih nyenyak, dan bangun dengan kondisi lebih segar.
Popularitas sleepmaxxing tidak terlepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya tidur. Penggunaan smartwatch dan perangkat wearable yang mampu memantau durasi serta fase tidur juga membuat banyak orang semakin memperhatikan kualitas istirahatnya. Kondisi tersebut diperkuat dengan maraknya konten nighttime routine di media sosial.
Beragam metode kemudian muncul dalam tren sleepmaxxing. Beberapa di antaranya sebenarnya merupakan bagian dari prinsip sleep hygiene, seperti menjaga jadwal tidur tetap konsisten, menciptakan kamar yang gelap dan sejuk, mengurangi paparan cahaya sebelum tidur, membatasi kafein, serta melakukan aktivitas relaksasi. Namun, ada pula metode yang masih membutuhkan bukti ilmiah lebih kuat, seperti mouth taping dan penggunaan suplemen tertentu.
Sejumlah kebiasaan dalam sleepmaxxing memang dapat mendukung kualitas tidur jika dilakukan dengan tepat. Tidur dan bangun pada waktu yang sama, rutin berolahraga, membatasi kafein pada sore hingga malam hari, serta menciptakan lingkungan tidur yang nyaman merupakan kebiasaan yang telah banyak direkomendasikan. Sebaliknya, penggunaan suplemen seperti melatonin atau magnesium sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan.
Salah satu metode yang perlu mendapat perhatian adalah mouth taping, yakni menutup mulut menggunakan plester saat tidur untuk mendorong pernapasan melalui hidung. Metode ini masih memiliki keterbatasan bukti ilmiah dan berpotensi menimbulkan masalah bagi orang dengan gangguan pernapasan tertentu, alergi, maupun sleep apnea. Karena itu, tren di media sosial tidak selalu berarti aman untuk semua orang.
Terlalu fokus mengejar tidur yang sempurna juga dapat menimbulkan masalah. Kondisi yang dikenal sebagai orthosomnia menggambarkan kecemasan berlebihan terhadap kualitas tidur akibat terlalu sering memantau data dari sleep tracker. Alih-alih membuat tidur lebih baik, kekhawatiran terhadap sleep score justru dapat meningkatkan stres dan membuat seseorang semakin sulit tidur.
Karena itu, masyarakat disarankan lebih mengutamakan kebiasaan tidur sehat dibanding mengejar berbagai sleep hack yang sedang viral. Mulai dengan menjaga jadwal tidur, mengurangi penggunaan gadget sebelum tidur, menciptakan kamar yang nyaman, mendapatkan paparan sinar matahari pagi, dan berolahraga secara rutin. Jika gangguan tidur berlangsung lama atau mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah yang lebih tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....