Mendidik dengan Cinta dan Ketaladanan
- 25 Jul 2026 07:46 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Sebagaimana diuraikannya didalam kajiannya di RRI Surabaya, tentang mendidik dengan cinta dan keteladanan, disampaikan oleh Tsaniyatul Hasanah, (Mubalighat Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah jawa Timur. Anak sebagai amanah dari Allah. (1). Menjaga amanah adalah syarat keimanan, Allah SWT telah memberikan satu ciri utama dari orang-orang mukmin yang beruntung; "Mereka adalah orang-orang yang menjaga amanah dan janjinya" (QS.Al Mu'minun : 8).
Amanah itu, bentuknya bermacam-macam. Jabatan adalah amanah, harta adalah amanah, pekerjaan adalah amanah. Namun, dari semua titipan di atas muka bumi, adalah titipan yang lebih bernilai, bernyawa, dan menentukan peradaban selain anak-anak kita?
Ketika kita mengakui diri kita sebagai orang yang beriman, maka syarat mutlaknya adalah kita harus sanggup menjadi penjaga dan pemelihara yang baik atas anak-anak yang Allah titipkan di rumah kita. Menjaga amanah ini berati merawat fitrah mereka, mendidik akalnya.
| Baca juga: Khofifah Bagikan Bendera Sambut HUT RI Ke-81 |
(2). Peringatan keras dan pengkhianatan. Lalu bagaiman jika kita abai ? Bagaimana jika kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga melupakan pendidikan karakter dan agama mereka ? urainya, Alloh memberikan peringatan yang sangat tegas dalam firman Nya : "Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui " (QS.Al Anfal : 27).
Ayat ini menyandingkan pengkhianatan kepada Allah dan rasul dengan pengkhianatan terhadap keluarga. Mengkhianati amanah anak bukan berarti membuang mereka. Mengkhianati amanah bisa terjadi dalam bentuk yang sangat halus yaitu : saat kita membiarkan mereka tumbuh tanpa mengenal siapa Allah, saat kita lebih peduli pada sekolahnya mereka ketimbang sholat subuhnya. (3). Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman : "Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anak kamu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Alloh ada pahala yang besar' (QS>Al Anfal : 28).
Kata fitnah ini paparnya, bukan berarti musibah atau keburukan. Fitnah bermakna ujian yang menguji kejernihan hati kita. Ujian dalam bentuk anak tidak selalu hadir dalam peristiwa yang dramatis atau menyedihkan. Seringkali, ujian itu justru hadir dalam bentuk kesehatan.
| Baca juga: Pembelajaran Akhlak Dimulai sejak Dini |
Disisinya lain dipaparkannya, mengapa anak menjadi ujian bagi orang tua ? . Ujian dalam diri anak adalah ujian tentang bagaiman kita mengelola rasa. Ketika kita menginginkan anak menjadi sosok yang ideal menurut standar kita- entah itu dari sisi kecerdasannya, kepatuhannya, atau pencapaiannya- di situlah ujian kesabaran dimulai.
Diantaranya ; Ujian Ego, kita diuji apakah kita mendidik untuk kepentingan Allah atau untuk kepuasan ego kita sendiri. Seringkali, kita merasa kesal bukan karena anak melakukan kesalahan yang fatal, tetapi karena perilaku mereka tidak sesuai dengan kenyamanan atau skenario yang kita rancang.
Ujian keikhlasan, kita diuji apakah kita mampu mencintai mereka tanpa syarat. bahkan saat mereka tidak memberikan respon yang kita harapkan. Menjaga amanah berati kita harus menunjukkan kasih sayang yang utuh, meski kita sedang lelah atau merasa jerih payah kita belum membuahkan hasil yang terlihat.
Diuraikannya pula, bahwa di balik ujian, ada pahala yang besar (Ajrun 'Azhiim). Namun, jangan pernah melihat kata "ujian' ini sebagai beban yang menyesakkan. Ingatlah penutup ayat tersebut : ".....dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar". Setiap rasa lelah saat membersamai proses tumbuh kembang mereka, setiap detik kesabaran yang kita kerahkan untuk menahan diri dari amarah, dan setiap upaya menanamkan kebaikan meski belum tampak hasilnya, semuanya tercatat sebagai investasi di sisi Allah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....