Pertalite Habis di SPBU Waru, Warga Terpaksa Beralih ke Pertamax yang Lebih Mahal
- 11 Jun 2026 15:18 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Habisnya stok bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di salah satu SPBU kawasan Waru, Kabupaten Sidoarjo, menuai keluhan dari masyarakat. Kelangkaan BBM bersubsidi tersebut membuat sejumlah pengendara terpaksa beralih ke Pertamax yang harganya lebih tinggi, sehingga menambah beban pengeluaran harian mereka. Kondisi ini membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan selain membeli Pertamax agar tetap dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena terjadi bertepatan dengan kenaikan harga Pertamax. Sebelumnya, Pertamax dijual dengan harga Rp12.300 per liter, namun kini naik menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan tersebut membuat selisih biaya yang harus dikeluarkan masyarakat semakin besar ketika mereka terpaksa beralih dari Pertalite ke Pertamax.
Salah seorang warga Waru, Hendra, mengaku kecewa karena tidak dapat memperoleh Pertalite yang selama ini menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraannya, Kamis, 11 Juni 2026.
“Saya datang ke SPBU untuk mengisi Pertalite seperti biasanya, tetapi ternyata stoknya habis. Karena harus tetap berangkat bekerja dan ada beberapa keperluan lain, akhirnya saya membeli Pertamax dengan harga yang sangat mahal. Biasanya isi bensin full tank 30 ribu rupiah. Sekarang isi Pertamax 30 ribu rupiah tidak sampai setengah tank. Tapi mau gimana lagi. Sebagai rakyat kecil, saya tidak bisa apa-apa. Mau tidak mau ya harus tetap beli, karena kendaraan tetap harus digunakan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup memberatkan, terutama bagi masyarakat yang setiap hari mengandalkan kendaraan pribadi untuk bekerja. Dengan kenaikan harga Pertamax, biaya transportasi yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.
“Kalau hanya sekali mungkin masih bisa ditoleransi. Tetapi kalau stok Pertalite sering kosong dan kami harus terus membeli Pertamax, tentu pengeluaran bulanan akan bertambah. Apalagi sekarang harga Pertamax sudah naik cukup tinggi,” katanya.
Hendra menambahkan bahwa masyarakat membutuhkan kepastian ketersediaan BBM bersubsidi agar dapat mengatur pengeluaran rumah tangga dengan lebih baik. Menurutnya, Pertalite masih menjadi pilihan utama bagi banyak warga karena harganya lebih terjangkau dibandingkan BBM non-subsidi.
“Sebagian besar masyarakat memilih Pertalite karena lebih sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka. Ketika stoknya habis, kami seperti dipaksa membeli BBM yang lebih mahal. Harapan kami, distribusi Pertalite bisa lancar dan tidak sering mengalami kekosongan,” tuturnya.
Kelangkaan Pertalite tidak hanya berdampak pada pengendara roda dua, tetapi juga pengguna kendaraan roda empat yang mengandalkan BBM tersebut untuk menunjang aktivitas usaha maupun pekerjaan sehari-hari. Kenaikan biaya bahan bakar berpotensi memengaruhi pengeluaran operasional masyarakat, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan hidup lainnya.
Warga berharap pihak terkait segera memastikan distribusi Pertalite kembali normal sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan memperoleh BBM bersubsidi. Selain itu, masyarakat juga meminta adanya informasi yang transparan mengenai penyebab habisnya stok Pertalite agar tidak menimbulkan kebingungan maupun keresahan di lapangan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola SPBU maupun instansi terkait mengenai penyebab habisnya stok Pertalite di kawasan Waru. Masyarakat berharap pasokan segera dipulihkan sehingga kebutuhan bahan bakar dapat terpenuhi dan aktivitas sehari-hari tidak terganggu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....