Kisah Syaiful, Penjual Telur Gulung yang Bertahan demi Keluarga
- 08 Jun 2026 13:07 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah menjamurnya usaha kuliner modern, Syaiful (43), perantau asal Madura, memilih menekuni usaha sederhana berjualan telur gulung di kawasan Gerbang Masuk Perumahan Mutiara Citra Asri, Candi, Sidoarjo. Dari usaha kecil tersebut, ia menggantungkan harapan untuk mencukupi kebutuhan dan membahagiakan istri serta ketiga anaknya.
Syaiful mulai berjualan sejak 2022 setelah sebelumnya bekerja di proyek bangunan. Bersama keluarganya, ia kini tinggal di sebuah rumah kos sederhana di kawasan Kampung Candi, Sumorame, Sidoarjo. Keputusan berjualan telur gulung diambil karena modal yang dibutuhkan relatif kecil dan proses pembuatannya mudah dipelajari.
“Saya cari yang simpel saja, modalnya kecil. Untungnya juga tidak banyak, tapi yang penting bisa jalan untuk keluarga,” ujar Syaiful saat ditemui di lokasi jualannya.
Setiap hari, ia menjajakan telur gulung, mi gulung, sosis gulung, hingga cireng gulung. Dengan modal sekitar Rp300 ribu per hari, omzet kotor yang diperoleh rata-rata mencapai Rp400 ribu. Namun, saat dagangan ramai, pendapatannya bisa menembus Rp600 ribu dalam semalam.
Menurut Syaiful, keterampilan membuat telur gulung tidak membutuhkan waktu lama untuk dipelajari. “Latihan dua hari saja sudah cukup. Bahkan tidak sampai sehari sebenarnya sudah mulai bisa bikin,” katanya.
Meski demikian, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Cuaca menjadi salah satu tantangan terbesar yang kerap dihadapi. Saat hujan turun, ia tetap berangkat berjualan sejak selepas salat Ashar hingga malam hari meski hasil yang diperoleh jauh dari harapan. “Kalau pas hujan, dari sore sampai malam kadang cuma dapat Rp120 ribu,” tuturnya.
Rutinitas berjualan yang dijalani selama bertahun-tahun juga meninggalkan dampak pada kondisi fisiknya. Selama sekitar lima tahun berkutat di depan wajan berisi minyak panas, jari-jari tangan kanannya kini mengalami kekakuan akibat sering terkena uap panas dan percikan minyak saat menggulung telur.
Meski harus pulang larut malam, bahkan hingga pukul 01.00 atau 02.00 dini hari, Syaiful tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh syukur. “Ramai atau sepi tetap disyukuri. Harapan saya sederhana, bisa membahagiakan istri dan anak-anak,” ujarnya. Bagi Syaiful, telur gulung bukan sekadar jajanan kaki lima, melainkan jalan perjuangan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....