Doa Haji Nelayan Adonara Terkabul

  • 13 Mei 2026 06:22 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Perjalanan ibadah haji sering kali menyimpan kisah perjuangan yang penuh haru dan inspirasi. Di tengah berbagai tantangan ekonomi masyarakat pesisir, pasangan jamaah haji asal Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, membuktikan bahwa kerja keras, doa, dan ketulusan dapat mengantarkan seseorang menuju Tanah Suci.

Pasangan tersebut adalah Arpa Sayatung Aligama dan istrinya, Halimah Daeng, yang tergabung dalam Kloter 80 Provinsi NTT Embarkasi Surabaya. Keduanya dijadwalkan terbang menuju Jeddah pada 12 Mei 2026 pukul 20.55 WIB untuk menunaikan ibadah haji bersama.

Kisah mereka bermula pada tahun 2014 ketika Arpa lebih dahulu berangkat haji seorang diri. Saat berada di depan Ka’bah, ia memanjatkan doa agar suatu hari bisa kembali ke Tanah Suci bersama sang istri.

“Waktu di depan Ka’bah saya berdoa semoga suatu saat bisa datang lagi bersama istri saya,” ujar Arpa mengenang doa yang dipanjatkannya 12 tahun lalu.

Sehari-hari Arpa bekerja sebagai nelayan bagan di pesisir Pulau Adonara. Meski tidak pernah menempuh pendidikan sekolah formal, ia tetap bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga dan mewujudkan cita-citanya berangkat haji bersama istri.

Keberuntungan besar datang ketika suatu malam bagan miliknya dipenuhi ikan dalam jumlah melimpah. Hasil tangkapan itu membuat Arpa memperoleh penghasilan hingga Rp60 juta hanya dalam semalam.

“Setelah dapat uang itu, saya langsung niatkan untuk daftar haji saya dan istri,” katanya.

Sementara itu, sang istri Halimah Daeng dikenal sebagai penjual ikan yang dermawan. Ia memiliki kebiasaan membantu pembeli yang kesulitan membeli ikan dengan harga normal di pasar.

“Kalau ada pembeli hanya punya uang sepuluh ribu, padahal harga ikan tiga puluh sampai empat puluh ribu, tetap saya kasih sesuai kemampuan mereka,” tutur Halimah.

Pasangan sederhana asal Flores Timur ini juga berhasil membesarkan anak-anak mereka hingga memiliki pekerjaan yang baik. Salah satu anak mereka berprofesi sebagai apoteker, sementara lainnya bekerja sebagai pegawai. Kisah perjuangan Arpa dan Halimah menjadi inspirasi bahwa keterbatasan pendidikan dan ekonomi tidak menghalangi seseorang untuk meraih impian dan memenuhi panggilan ibadah ke Tanah Suci.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....