Hari Lahir Pancasila Momentum Perkuat Pendidikan Karakter Bangsa
- 29 Mei 2026 18:52 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya – Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat Indonesia untuk merefleksikan nilai-nilai dasar bangsa. Namun, sejumlah akademisi di Surabaya mengingatkan agar peringatan tersebut tidak hanya berhenti pada seremoni upacara dan pidato semata. Pancasila dinilai harus benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari, terutama di lingkungan pendidikan.
Menurut Kaprodi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Mochtar Lutfi saat dihubungi Pro1 melalui sambungan telepon, Jumat 29 Mei 2026 menilai, pemaknaan Hari Lahir Pancasila selama ini masih terlalu dangkal.
Menurutnya, masyarakat kerap hanya mendengar pidato dan menghafal sila-sila Pancasila tanpa memahami makna dan penerapannya dalam kehidupan nyata.
| Baca juga: Satu Suro dan 1 Muharram, Apa Bedanya? |
“Peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya di permukaan saja, namun harus diterapkan dalam sehari-hari. Jadi jangan seperti yang lalu, hanya didengarkan dan dihafalkan,” tegas Dr. Mochtar Lutfi.
Ia juga menyoroti metode pembelajaran Pancasila di sekolah yang masih cenderung teoritis. Menurutnya, pendekatan lama berupa ceramah dan hafalan sudah tidak relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini. Pengajaran Pancasila harus lebih kolaboratif dan partisipatif agar siswa benar-benar merasakan nilai gotong royong, toleransi, dan kebersamaan.
“Pengajaran Pancasila harus dengan kolaboratif dan partisipatif. Siswa harus terlibat didalam implementasinya. Misal, gotong royong di sekolah membersihkan halaman dan kelas. Bila siswa terlibat, akan diingat sampai kapanpun,” jelasnya.
| Baca juga: Muharram Perkuat Iman |
Pengalaman masa kecil Mochtar Lutfi saat bersekolah di SDN Tremas, Arjosari, Pacitan, menjadi contoh nyata pembelajaran partisipatif tersebut. Saat itu, seluruh siswa ikut terlibat mengelola sawah milik sekolah mulai dari menanam hingga panen padi. Hasil panen kemudian dimasak dan dimakan bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan dan gotong royong yang membekas hingga kini.
“Ini yang dimaksud pembelajaran partisipatif. Dan pengalaman ini, akan diingat oleh murid sampai kapan saja. Nah, pelajaran Pancasila juga harus dengan suasana yang menyenangkan,” tambahnya.
Senada dengan itu, pengamat pendidikan Drs. Margiono, MM mengatakan pembentukan jiwa Pancasila harus dimulai sejak usia dini, terutama saat anak berada di bangku Sekolah Dasar. Menurutnya, nilai-nilai dasar seperti menghormati orang tua dan guru, menjaga lingkungan, hingga saling menghargai sesama menjadi pondasi utama membangun rasa cinta tanah air dan bangsa.
“Mengedepankan sikap perilaku baik, menghargai pendapat orang lain, menghormati keyakinan dan kepercayaan orang lain, gotong royong dan saling bantu membantu,” ujar Margiono.
Ia menambahkan, sekolah saat ini juga mulai mengintegrasikan nilai Pancasila dalam seluruh mata pelajaran, termasuk seni budaya, pendidikan karakter, hingga kegiatan sosial sebagai upaya membentuk generasi yang memahami Pancasila bukan hanya sebagai hafalan, melainkan pedoman hidup sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....