Kurban Bukan Sekadar Ritual, Ada Pesan Jaga Lingkungan
- 23 Mei 2026 06:12 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Ibadah kurban yang rutin dilaksanakan umat Muslim setiap Iduladha tidak boleh sekadar dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan ritual semata. Lebih dari itu, kurban menyimpan dimensi teologis yang sangat kuat terhadap kelestarian lingkungan atau ketakwaan ekologis.
Hal tersebut ditegaskan oleh Nyai Hj. Nur Hanafiyah, Muballighot Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, terhubung sebagai narasumber dalam program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya, Sabtu (23 Mei 2016.
Dalam dialog interaktif bertajuk "Menyemai Ketakwaan Ekologis Melalui Ibadah Qurban", Nyai Nur mengajak masyarakat untuk mengubah paradigma berpikir dalam beribadah. Ketakwaan kepada Allah SWT seharusnya berbanding lurus dengan kepedulian terhadap bumi yang kita pijak.
"Ketika kita mengaitkannya dengan ekologi, kurban itu bukan hanya soal menyembelih hewan lalu membagikan dagingnya. Ada etika ekologis di dalamnya yang sering kali kita lupakan. Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin, yang artinya membawa rahmat bagi seluruh alam, termasuk lingkungan hidup," ujar Nyai Nur.
Nyai Nur menekankan pentingnya transisi menuju Kurban Eco-Green yang bersih dan ramah lingkungan. Ia menyoroti beberapa kebiasaan lama yang harus mulai ditinggalkan oleh panitia kurban di masjid-masjid maupun komunitas.
Ada beberapa poin penting terkait etika ekologis dalam ibadah kurban yang dipaparkan dalam program Cahaya Pagi:
Penyembelihan yang Manusiawi dan Bersih: Memastikan hewan kurban diperlakukan dengan ihsan (baik), tempat penyembelihan bersih, dan darah hewan tidak dialirkan ke sungai yang dapat mencemari ekosistem air.
Diet Kantong Plastik: Mengganti kantong plastik sekali pakai dengan wadah yang lebih ramah lingkungan untuk membagikan daging kurban, seperti besek bambu, daun jati, daun pisang, atau wadah reusable yang dibawa sendiri oleh warga.
Pengelolaan Limbah Kurban: Mengelola kotoran dan jeroan hewan dengan benar (dikubur atau dijadikan kompos), bukan dibuang sembarangan yang memicu bau menyengat dan sarang penyakit.
Di akhir dialog, Muballighot PWA Jatim ini mengingatkan bahwa substansi kurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging atau darahnya, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya.
"Melalui momen kurban tahun ini, mari kita semai ketakwaan ekologis kita. Bersuci, bersedekah, sekaligus menjaga bumi. Dengan menerapkan kurban yang bersih dan eco-green, kita tidak hanya mendapat pahala ibadah, tetapi juga pahala karena telah menjaga kelangsungan hidup anak cucu kita di masa depan," pungkasnya.
Program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya edisi Sabtu ini mendapatkan respons antusias dari para pendengar, ditandai dengan banyaknya atensi dan pertanyaan interaktif dari warga Surabaya dan sekitarnya yang berkomitmen mulai menerapkan konsep kurban ramah lingkungan pada Iduladha mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....