Angkat Isu Sungai Kalimas, Siswi SMATAG Juara Monolog FLS3N Surabaya

  • 11 Mei 2026 14:20 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Monika Aveline Jasmine, siswi XI-3 SMATAG Surabaya, meraih Juara 2 FLS3N monolog tingkat Surabaya.
  • Aveline membawakan monolog Aliran DOA dan DOSA yang mengangkat isu Sungai Kalimas, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan sosial.
  • Ia memerankan tokoh Nyai Ronggeng yang menggambarkan penderitaan kuli pada masa kolonial.
  • Aveline awalnya menekuni tari dan baru pertama kali mengikuti lomba monolog.
  • Latihan intensif dua minggu membawanya lolos 10 besar hingga meraih juara 2 di final.

RRI CO.ID, Surabaya - Prestasi membanggakan diraih Monika Aveline Jasmine, siswi kelas XI-3 SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya (SMATAG), usai meraih Juara 2 Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) bidang monolog tingkat Kota Surabaya. Dalam kompetisi yang digelar pada 30 April 2026 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya itu, Aveline tampil membawakan monolog berjudul Aliran DOA dan DOSA yang mengangkat isu ketidakadilan sosial dan kerusakan lingkungan, khususnya kondisi Sungai Kalimas.

Melalui tokoh Nyai Ronggeng, Aveline menggambarkan penderitaan para kuli pada masa kolonial yang dipaksa bekerja demi kepentingan penjajah. Tak hanya itu, monolog tersebut juga menyentil kondisi saat ini, ketika manusia dinilai masih melakukan “dosa” melalui perusakan alam dan pencemaran sungai.

“Monolog ini menceritakan tentang dosa masa lalu berupa penindasan manusia dan dosa masa kini berupa kerusakan lingkungan yang terus mengalir seperti sungai,” kata Aveline, dalam rilis diterima RRI, Senin 11 Mei 2026.

Aveline mengaku tidak pernah menyangka akan mengikuti lomba monolog. Pasalnya, selama ini ia lebih aktif di bidang tari dan belum pernah mengikuti kompetisi seni peran sebelumnya.

“Lebih ke plot twist sih. Awalnya saya sempat ragu karena selama ini hanya fokus di tari. Tapi saya pikir kapan lagi mencoba hal baru,” ujarnya.

Persiapan menuju lomba pun terbilang singkat. Selama dua minggu, ia menjalani latihan intensif bersama guru pendamping dan pelatih monolog untuk mendalami karakter, melatih emosi, teknik vokal, hingga olah tubuh.

Menurutnya, proses latihan monolog jauh lebih berat dari yang dibayangkan. “Ternyata monolog bukan cuma menghafal dialog. Kita juga harus benar-benar mengolah emosi, tubuh, dan suara supaya pesan yang disampaikan bisa sampai ke penonton,” ucapnya.

Sebelum tampil di final, Aveline lebih dulu melewati tahap seleksi video hingga berhasil masuk 10 besar. Pada babak final yang digelar secara langsung di STIESIA Surabaya, penampilannya berhasil mengantarkannya meraih Juara 2 tingkat kota.

Guru pendamping SMATAG, Maharani Dhinda Ganes Wahyuningtyas, S.Pd., mengatakan awalnya keikutsertaan Aveline dalam lomba tersebut hanya sebatas mencoba pengalaman baru. Namun, ia melihat potensi besar dalam diri siswinya itu.

“Awalnya memang hanya coba-coba mengikuti lomba ini, tetapi ternyata saya tidak salah memilih siswa. Aveline memiliki pemahaman yang baik sehingga proses latihannya bisa berjalan lebih cepat meskipun persiapannya hanya dua minggu,” ujarnya.

Ia berharap prestasi tersebut dapat memotivasi siswa lain untuk terus mengembangkan potensi dan berani mencoba hal baru. “Jangan takut mencoba dan jangan mudah menyerah ketika belum berhasil. Semua proses pasti memberikan hasil terbaik pada waktunya,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....