Pengangguran Jawa Timur Turun Jadi 3,55 Persen, Lulusan Universitas Tertinggi

  • 07 Mei 2026 16:27 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur pada Februari 2026 sebesar 3,55 persen.
  • Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi lapangan usaha terbesar penyerap tenaga kerja di Jawa Timur dengan kontribusi 31,76 persen atau sekitar 7,70 juta pekerja.
  • Meski tingkat pengangguran menurun, BPS mencatat lulusan universitas justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi. TPT lulusan universitas pada Februari 2026 mencapai 6,04 persen

RRI.CO.ID, Surabaya - Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur pada Februari 2026 sebesar 3,55 persen. Angka tersebut turun 0,06 persen poin dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 3,61 persen.

Dalam Berita Resmi Statistik yang dirilis 5 Mei 2026, jumlah angkatan kerja di Jawa Timur tercatat mencapai 25,14 juta orang atau bertambah 386,19 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, sebanyak 24,25 juta orang telah bekerja, sedangkan 892,64 ribu orang masih menganggur.

Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur Nurul Andriana menyebut peningkatan angkatan kerja turut mendorong kenaikan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menjadi 74,78 persen. Angka tersebut naik 0,53 persen poin dibandingkan Februari 2025, menandakan semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi.

"Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi lapangan usaha terbesar penyerap tenaga kerja di Jawa Timur dengan kontribusi 31,76 persen atau sekitar 7,70 juta pekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 18,62 persen serta industri pengolahan sebesar 14,38 persen." ujarnya.

Meski tingkat pengangguran menurun, BPS mencatat lulusan universitas justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi. TPT lulusan universitas pada Februari 2026 mencapai 6,04 persen, disusul lulusan SMA sebesar 5,75 persen dan SMK sebesar 5,73 persen.

Di sisi lain, mayoritas pekerja di Jawa Timur masih berada pada sektor informal. Persentasenya mencapai 64,44 persen dari total penduduk bekerja, sedangkan pekerja formal hanya sebesar 35,56 persen. Angka pekerja formal tersebut turun 0,53 persen poin dibandingkan Februari 2025.

"BPS juga mencatat pekerja paruh waktu mengalami peningkatan menjadi 30,52 persen, sementara tingkat setengah pengangguran turun menjadi 6,67 persen. Kondisi ini menunjukkan masih cukup banyak pekerja yang belum memperoleh jam kerja optimal meski terserap di pasar kerja." katanya.

Secara wilayah, tingkat pengangguran di perkotaan tercatat lebih tinggi dibanding perdesaan. TPT perkotaan mencapai 4,09 persen, sedangkan perdesaan sebesar 2,68 persen. Sementara berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki sebesar 3,78 persen dan perempuan 3,24 persen.

BPS menilai perubahan struktur ekonomi, termasuk berkembangnya sektor digital dan jasa, turut memengaruhi pola ketenagakerjaan di Jawa Timur. Karena itu, penguatan kualitas sumber daya manusia dinilai menjadi tantangan penting agar tenaga kerja mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....