Moderasi Beragama Perkuat Persaudaraan di tengah Era Digital
- 04 Mei 2026 10:12 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program Tanjung Perak Pagi dalam segmen Moderasi Beragama yang disiarkan pada Senin, 4 Mei 2026 mengangkat pentingnya moderasi beragama dalam memperkuat persaudaraan di era digital. Dalam dialog tersebut, Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surabaya, Drs. H. Andi Hariyadi, menekankan pentingnya sikap bijak dalam beragama di tengah arus informasi yang semakin cepat.
Andi menjelaskan bahwa keberagaman harus disikapi dengan semangat persaudaraan, bukan permusuhan. Ia menilai, perkembangan teknologi dan media sosial saat ini perlu dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan. “Sikapi keragaman dengan penuh persaudaraan, bukan permusuhan,” ujarnya menegaskan.
Menurutnya, era digital juga menjadi tantangan tersendiri karena maraknya informasi hoaks, termasuk yang berkaitan dengan isu keagamaan. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi penting sebagai upaya menjaga keharmonisan. “Moderasi beragama menguatkan persaudaraan di tengah informasi hoax,” jelasnya.
Dalam membangun interaksi sosial yang sehat, Andi menyebut ada beberapa modal utama yang harus dimiliki masyarakat, yakni persaudaraan, kerukunan, dan kepedulian. Ketiga hal tersebut menjadi fondasi penting dalam menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah perbedaan.
Ia juga menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara beragama yang berada di tengah atau wasathiyah. “Moderasi adalah cara beragama tengahan,” katanya. Selain itu, komitmen dalam moderasi beragama mencakup toleransi, kebangsaan, anti kekerasan, kerja sama, serta sikap akomodatif terhadap budaya lokal.
Lebih lanjut, Andi mengingatkan masyarakat agar bijak dalam bermedia sosial. Ia menekankan pentingnya prinsip “saring sebelum sharing” agar tidak terjebak dalam penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menghindari ujaran kebencian, hoaks keagamaan, dan fitnah digital.
Ia juga mendorong masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya lokal yang mengandung nilai persaudaraan, seperti gotong royong, silaturahmi, dan kebiasaan saling berbagi. Menurutnya, budaya tersebut dapat menjadi sarana memperkuat hubungan sosial di tengah kehidupan modern.
Sebagai penutup, Andi menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara untuk mencapai persaudaraan. “Moderasi beragama itu caranya, tujuannya persaudaraan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa jika beragama justru menimbulkan permusuhan, maka ada yang perlu diluruskan dalam pemahaman beragama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....