Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Mengupas Filosofi Ki Hadjar Dewantara

  • 03 Mei 2026 20:45 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Memperingati momentum Hari Pendidikan Nasional, Program Apresiasi Budaya Pro 4 RRI Surabaya hadir dengan diskusi mendalam pada edisi Minggu 3 Mei 2026 Mengusung tema filosofi legendaris "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani", kegiatan ini menghadirkan sosok pecinta budaya nusantara, Cak Ries Handana, sebagai narasumber.

Dalam perbincangan tersebut, Cak Ries Handana menyoroti sisi humanis dan perjuangan radikal seorang Ki Hadjar Dewantara. Lahir pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau sejatinya berasal dari lingkungan keraton yang kental dengan kemewahan dan privilese.

"Beliau adalah contoh nyata pengabdian. Ki Hadjar secara sadar menanggalkan gelar kebangsawanannya agar bisa melebur dan merakyat. Tujuannya hanya satu: memantaskan bangsa Indonesia agar lepas dari belenggu kebodohan," ujar Cak Ries.

Perjalanan hidup Bapak Pendidikan Nasional ini tidaklah linier. Cak Ries menceritakan bahwa Ki Hadjar sempat mengenyam pendidikan kedokteran di STOVIA, namun harus berhenti karena faktor kesehatan. Kegagalan di dunia kedokteran justru membuka pintu baru sebagai seorang jurnalis yang kritis terhadap kolonialisme.

Kepiawaiannya menulis membawanya membentuk Tiga Serangkai dan mendirikan partai politik pertama di Indonesia, Indische Partij, pada tahun 1912. Namun, tajamnya pena Ki Hadjar yang sempat membuatnya diasingkan justru berujung pada kesadaran bahwa perjuangan paling mendasar adalah melalui jalur pendidikan.

Topik utama diskusi berfokus pada tiga pilar pendidikan yang dicetuskan beliau:

Ing Ngarsa Sung Tuladha: Di depan memberi teladan.

Ing Madya Mangun Karsa: Di tengah membangun semangat.

Tut Wuri Handayani: Di belakang memberikan dorongan.

Cak Ries menekankan bahwa filosofi ini bukan sekadar slogan di seragam sekolah, melainkan fondasi karakter bagi pendidik maupun pemimpin masa kini.

"Meski beliau telah wafat pada 26 April 1959, semangatnya untuk memerdekakan pikiran manusia Indonesia harus tetap hidup dalam setiap proses belajar-mengajar kita hari ini," katanya di akhir sesi dialog.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....