Kisah Inspiratif Cak Tris, 22 Tahun Menjadi Penjual Bakso Keliling
- 01 Mei 2026 19:05 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk kemajuan Kota Surabaya, terselip sebuah kisah keteguhan dari seorang pria bernama Cak Tris. Selama kurang lebih 22 tahun, ia telah mendedikasikan hidupnya sebagai penjual bakso keliling, sebuah profesi yang ia jalani dengan penuh kesabaran sejak tahun 2004.
Cak Tris mengenang awal mula perjalanannya yang didasari oleh keterbatasan lapangan kerja saat itu. Karena desakan ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan lain, ia akhirnya memutuskan untuk menjajakan kuliner khas nusantara ini.
Berbeda dengan banyak pedagang yang memiliki aset sendiri, hingga kini Cak Tris masih menggunakan rombong milik orang lain. Ia merupakan salah satu dari delapan orang yang bekerja pada bos yang sama. Dengan sistem setoran, Cak Tris menerima semua bahan bakso dari pemilik rombong dan bertugas menjalankan operasional penjualannya setiap hari.
"Bos saya punya delapan rombong yang dijalankan delapan orang berbeda," ujar Cak Tris pria asal Malang ini.
Setiap hari, petualangan Cak Tris dimulai pukul 12 siang. Ia berangkat dari kawasan Wonorejo, Pasar Kembang, lalu mulai mendorong rombong hijaunya menyusuri rute-rute ikonik di Surabaya, mulai dari Jalan Basuki Rahmat hingga Panglima Sudirman.
Titik keberuntungan biasanya ia temukan sekitar pukul 4 sore di area Bambu Runcing, tepatnya di depan Gedung MNC TV. Saat jam istirahat sore bagi para pekerja kantoran, dagangannya kerap ramai diserbu pembeli yang ingin melepas penat dengan semangkuk bakso hangat.
Meski sang bos memberikan kebebasan dalam menentukan waktu libur, Cak Tris tetap menjaga kedisiplinannya. Ia memiliki prinsip untuk menyudahi pekerjaannya pada pukul 8 malam, terlepas dari apakah dagangannya sudah habis atau belum.
"Biar habis nggak habis, pulang pokoknya jam 8 malam," tegasnya.
Perjalanan panjang Cak Tris selama dua dekade lebih adalah potret nyata perjuangan sektor informal (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi kota. Perhentian terakhirnya setiap hari adalah di depan kantor Radio Republik Indonesia (RRI), tempat ia seringkali menutup hari sebelum kembali ke rumah untuk beristirahat dan bersiap memulai perjuangan yang sama esok hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....