Orang Tua Tidak Kompak Anak Jadi Sulit Diatur

  • 23 Apr 2026 18:24 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,Surabaya - Banyak orang tua kerap tidak menyadari bahwa perbedaan sikap atau keputusan di depan anak dapat berdampak besar terhadap keharmonisan keluarga. Ketidaksinkronan ini bukan hanya memicu kebingungan pada anak, tetapi juga berpotensi merusak wibawa orang tua dalam menjalankan pola asuh sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan oleh Anita Wulan, seorang Konselor Keluarga di Surabaya, dalam wawancara dengan Pro1 melalui sambungan telepon, Kamis 23 April 2026. Ia menyoroti bahwa fenomena ini sering dianggap sepele, padahal memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan karakter anak.

Menurut Anita, salah satu kesalahan umum yang sering terjadi adalah ketika satu orang tua melarang sesuatu, sementara yang lain justru memberikan izin. Kondisi ini tanpa disadari membuka celah bagi anak untuk mencari keuntungan dari perbedaan tersebut.

“Anak minta izin ke Ibu dan dibilang ‘gak boleh’, lalu lari ke Ayah dan dibilang ‘ya udah boleh’. Ini bukan tanda Ayah yang baik, tapi justru tanda wibawa rumah tanggamu sedang ‘diadu domba’,” ujar Anita tegas.

Ia menambahkan bahwa dalam sebuah keluarga, peran Ayah dan Ibu seharusnya berjalan selaras layaknya sebuah organisasi yang memiliki struktur jelas. Pembagian peran yang tepat akan membantu menjaga stabilitas dan konsistensi dalam pengambilan keputusan.

“Secara hierarki, Ayah adalah pemimpin tertinggi, namun Ayah mendelegasikan wewenang harian kepada Ibu. Oleh karena itu, jika Manajer (Ibu) sudah bilang TIDAK, maka CEO (Ayah) sebaiknya tidak langsung bilang IYA di depan anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Anita memperingatkan bahwa perbedaan sikap yang ditunjukkan di depan anak dapat merusak wibawa salah satu pihak, khususnya Ibu. Anak pun berpotensi tumbuh dengan sikap yang cenderung menyepelekan aturan karena merasa memiliki ‘celah’ untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

“Kalau Ayah tidak setuju dengan keputusan Ibu, tegurlah secara privat di kamar. Tapi di depan anak, Ayah dan Ibu harus tampil sebagai satu paket yang solid. Jangan biarkan anak belajar politik ‘dua kaki’ sejak dini,” pesannya.

Untuk menjaga keharmonisan keluarga, Anita menyarankan agar orang tua membangun kesepakatan yang konsisten dalam memberikan jawaban kepada anak. “Gunakan kalimat seperti, ‘Kata Ibu gimana? Kalau Ibu bilang enggak, berarti Ayah juga enggak’. Ini menunjukkan bahwa manajemen keluarga kalian kuat dan tidak bisa dipecah belah,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....