Waspada, El Nino 2026 Ancam Produksi Pangan Nasional

  • 14 Apr 2026 19:53 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ancaman El Nino yang diperkirakan menyertai musim kemarau 2026 menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian nasional. BMKG mengingatkan musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih panjang dari kondisi normal sehingga berisiko memicu kekeringan lahan, gangguan pola tanam, hingga penurunan hasil panen jika tidak diantisipasi sejak awal.

Dalam Dialog Aspirasi di Pro1 RRI Surabaya, Selasa (14/4/2026), Gunawan, Steering Committee Komite Nasional Pertanian Keluarga, menegaskan dampak El Nino 2026 sangat berisiko terhadap sektor pertanian, terutama pada sawah tadah hujan dan lahan dengan pasokan air terbatas.

“Tentu dampak El Nino pada musim kemarau 2026 juga akan melanda sektor pertanian. Oleh karenanya upaya pencegahan dan mitigasi diperlukan agar tidak terjadi gagal panen atau hal-hal yang tidak diharapkan,” ujar Gunawan.

Menurutnya, langkah mitigasi harus menjadi perhatian pemerintah, tidak hanya dibebankan kepada petani. Bentuk perlindungan seperti ganti rugi dan asuransi pertanian dinilai sangat penting agar petani tidak menanggung seluruh risiko ketika produksi menurun akibat kekeringan.

“Upaya perlindungan dari pemerintah seperti ganti rugi dan asuransi pertanian itu mutlak diperlukan,” katanya.

Selain itu, Gunawan menekankan pentingnya menghidupkan kembali embung dan sumber cadangan air untuk membantu pengairan sawah saat musim kering. Upaya ini dinilai strategis, terutama di wilayah yang selama ini mengandalkan curah hujan.

Ia juga menyoroti pentingnya pemilihan bibit yang sesuai musim kemarau, sebab tidak semua varietas tanaman mampu bertahan pada kondisi El Nino berkepanjangan.

“Ada tanaman-tanaman yang cocok ditanam saat musim kemarau. Pemilihan bibit dan teknologi pertanian harus mendukung agar produksi tetap berjalan,” jelasnya.

Langkah tersebut sejalan dengan strategi Kementerian Pertanian yang mempercepat lima strategi utama mitigasi kekeringan, mulai dari pemetaan wilayah rawan, optimalisasi embung dan pompanisasi, percepatan tanam, hingga penggunaan varietas unggul tahan kering untuk menjaga produksi pangan nasional tetap stabil pada periode kritis April–Juni 2026.

Lebih lanjut, Gunawan menegaskan bahwa menjaga ketahanan pangan harus difokuskan pada keberlanjutan produksi dalam negeri, bukan menjadikan impor sebagai pilihan utama. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup untuk mewujudkan swasembada pangan jika dikelola dengan baik.

“Impor bukan salah satu solusi. Dengan potensi dan kekayaan sumber daya alam yang ada, pemerintah harus memikirkan perwujudan swasembada pangan dan ketahanan pangan bagi Indonesia,” tegasnya.

Ia juga mendorong penguatan alternatif pangan lokal dan menghidupkan kembali konsep pertanian keluarga, termasuk pada lahan sempit dengan dukungan teknologi modern. Langkah tersebut diyakini dapat membantu menjaga produksi pangan tetap stabil di tengah ancaman kemarau panjang.

Naskah ini diharapkan menjadi rujukan edukatif bagi pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat mitigasi sektor pertanian agar El Nino 2026 tidak berkembang menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....