Larangan Gawai Total Dinilai Keliru
- 12 Apr 2026 14:20 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Kebijakan pelarangan total penggunaan gawai di lingkungan sekolah dinilai bukan langkah tepat dalam menjawab tantangan pendidikan digital saat ini. Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Gresik, Ali Yusa, menilai pendekatan pembatasan yang edukatif lebih relevan dibanding larangan menyeluruh.
Kepada RRI Surabaya, Minggu, 12 April 2026, Ali Yusa mengatakan gadget sudah menjadi bagian dari realitas zaman yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pelajar. “Kedaulatan digital hanya bisa dicapai melalui pembatasan yang cerdas, bukan pelarangan. Gadget adalah bagian dari kodrat zaman, sehingga sekolah perlu mengarahkan, bukan sekadar merampas,” ujar Ali Yusa.
Menurutnya, pelarangan total justru berpotensi mematikan ruang dialog kritis siswa terhadap teknologi. Anak didik, kata dia, tetap akan mencari akses digital di luar pengawasan sekolah, tanpa etika dan tanpa pendampingan yang memadai.
Ali menilai langkah pembatasan lebih sesuai dengan prinsip pendidikan Among yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara, yakni menuntun peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Pandangan tersebut dinilai relevan dengan tingginya penggunaan internet di Jawa Timur.
Data APJII yang disampaikan Diskominfo Jatim menunjukkan penetrasi internet di provinsi ini mencapai 82,19 persen. Karena itu, ia mendorong sekolah menyusun batasan yang jelas mengenai penggunaan gawai, seperti pemanfaatan untuk riset, literasi digital, dan pembelajaran berbasis data, namun tetap membatasi penggunaan saat diskusi tatap muka berlangsung.
“Kalau kita membatasi dengan kesepakatan, kita sedang mendidik anak menjadi manusia merdeka yang mampu mengendalikan dirinya sendiri,” katanya.
Selain peran sekolah, Ali Yusa menekankan pentingnya keterlibatan keluarga, khususnya ibu, sebagai pendamping literasi digital pertama di rumah. Menurutnya, sosok ibu memegang peran penting untuk mengarahkan anak agar tidak hanya menjadi konsumen konten digital, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar, berpikir kritis, dan berkreasi.
Ia menilai pembatasan penggunaan gawai tidak akan efektif bila sekolah berjalan sendiri tanpa pola pengasuhan yang selaras di lingkungan keluarga. Karena itu, rumah dan sekolah perlu memiliki ritme pembatasan yang sejalan.
Ali menambahkan, kualitas literasi digital masyarakat Jawa Timur juga masih perlu terus diperkuat. Data Kementerian Kominfo menunjukkan Indeks Literasi Digital Jawa Timur berada di angka 3,55, sedikit di atas rata-rata nasional.
Menurut dia, angka tersebut harus menjadi refleksi bagi sekolah untuk tidak sekadar mengejar ketertiban kelas, tetapi juga membangun budaya digital yang kritis, aman, dan beretika. Karena itu, ia berharap guru kembali menjalankan fungsi sebagai pamong digital, yakni mengarahkan arus informasi menjadi energi kreatif, bukan sekadar menjaga ketertiban kelas secara administratif.
Ali menegaskan, kelas yang berhasil bukanlah kelas yang sepenuhnya bebas gadget, melainkan kelas yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....