Kerawanan Kekeringan 2026, Masyarakat Diimbau Bijak Gunakan Air
- 08 Apr 2026 09:44 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Ketua Tim Pencegahan BPBD Jawa Timur, memaparkan kesiapan pemerintah provinsi dalam menjaga ketahanan air dan meminimalisir dampak kekeringan yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
- Berdasarkan data BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan datang lebih awal dengan intensitas yang perlu diwaspadai akibat fenomena El Nino
RRI.CO.ID, Surabaya – Memasuki transisi musim di tahun 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi kemarau panjang. Hal ini menjadi bahasan utama dalam dialog interaktif "Kentongan" di Pro 4 RRI Surabaya, Rabu, 08 April 2026.
Hadir sebagai narasumber, Dadang Iqwandy, ST., MT., selaku Ketua Tim Pencegahan BPBD Jawa Timur, memaparkan kesiapan pemerintah provinsi dalam menjaga ketahanan air dan meminimalisir dampak kekeringan yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
Berdasarkan data BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan datang lebih awal dengan intensitas yang perlu diwaspadai akibat fenomena El Nino. Dadang menyebutkan bahwa BPBD Jatim telah memetakan wilayah-wilayah yang secara historis memiliki indeks kerawanan kekeringan tinggi.
"Kami terus melakukan pemantauan intensif, terutama di wilayah-wilayah kritis seperti Bojonegoro, Pasuruan, hingga beberapa titik di Madura. Koordinasi dengan BPBD Kabupaten/Kota terus ditingkatkan untuk memastikan ketersediaan logistik dan armada distribusi air bersih," kata Dadang dalam dialog tersebut.
Dalam penjelasannya, Dadang menekankan bahwa pencegahan bukan hanya soal penanganan saat bencana terjadi, melainkan bagaimana menyiapkan infrastruktur dan kesadaran masyarakat sebelum puncak kemarau tiba. Beberapa langkah strategis yang disiapkan antara lain:
Optimalisasi Embung dan Waduk: Memastikan tampungan air dalam kondisi maksimal sebelum debit air menurun drastis.
| Baca juga: Polisi Petakan Desa Rawan Konflik Pilkades |
Sistem Peringatan Dini (EWS): Pemanfaatan teknologi pemantauan cuaca untuk memberikan informasi cepat kepada petani dan masyarakat.
Distribusi Air Bersih: Menyiapkan armada mobil tangki untuk menjangkau desa-desa yang mengalami kelangkaan air minum.
Waspada Karhutla: Selain kekeringan lahan, BPBD juga mewaspadai potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), terutama di wilayah pegunungan seperti Arjuno dan Bromo.
Di akhir dialog, Dadang Iqwandy mengajak masyarakat untuk mulai membudayakan perilaku hemat air. Ia mengingatkan bahwa ketersediaan air tanah sangat bergantung pada bagaimana masyarakat mengelola penggunaannya sejak dini.
"Kami mengimbau warga untuk mulai menabung air dan bijak dalam pemakaian harian. Laporkan segera kepada perangkat desa atau BPBD setempat jika di wilayah Anda mulai mengalami kesulitan akses air bersih agar bisa segera dilakukan intervensi," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....