Pakar ITS Nilai WFH Kini Tak Seefektif Pandemi
- 06 Apr 2026 14:28 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Kebijakan Work From Home (WFH) untuk mendukung kebijakan efesiensi energi, dinilai memiliki dampak berbeda dibanding saat pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan Arman Hakim Nasution, MEng, Kepala Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik ITS.
Menurut Arman, pada masa pandemi, kepatuhan masyarakat terhadap WFH dipicu faktor ketakutan terhadap risiko kesehatan. “Dulu orang nurut karena takut mati, jadi kepatuhannya tinggi,” ujarnya. Senin, 6 April 2026.
Ia menjelaskan, kondisi saat ini berbeda karena WFH lebih diarahkan pada efisiensi, terutama penghematan energi. Beban biaya listrik, kata dia, kini cenderung dialihkan dari pemerintah ke individu.
“Kalau WFH, penggunaan listrik berpindah ke rumah masing-masing. Jadi masyarakat yang menanggung, meskipun biaya transportasi berkurang,” katanya.
Arman menambahkan, penerapan WFH yang dijadwalkan dua hari, seperti Jumat dan Senin, perlu dievaluasi dari sisi efektivitas. Skema ini berpotensi menciptakan pola libur panjang di tengah masyarakat.
“Kalau Jumat dan Senin WFH, berarti ada empat hari berturut-turut. Ini perlu dilihat apakah benar efisien atau tidak,” ucapnya.
Ia mengingatkan adanya potensi perubahan perilaku masyarakat yang justru dapat mengurangi tujuan efisiensi. Salah satunya adalah meningkatnya mobilitas ke luar kota saat periode tersebut.
“Jangan-jangan malah dimanfaatkan untuk pergi ke desa. Memang bisa menggerakkan ekonomi, tapi tujuan efisiensi bisa tidak tercapai,” katanya.
Lebih lanjut, Arman menyoroti kebijakan energi di sejumlah negara Asia Tenggara yang dapat menjadi pembelajaran. Ia menilai pendekatan harga riil tanpa subsidi mendorong masyarakat lebih hemat dalam penggunaan energi.
“Seperti Singapura dan Australia, harga BBM mengikuti kondisi pasar. Masyarakat jadi berhemat karena sadar harga sebenarnya,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....