Bijak Menyimpan Cerita antara Menjaga Diri dan Kesehatan Mental
- 05 Apr 2026 07:15 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Di tengah arus keterbukaan informasi dan maraknya media sosial, kebiasaan membagikan cerita pribadi di dunia digital, menjadi hal yang lumrah. Namun, tidak semua hal perlu diceritakan. Ada nilai penting dalam memahami kapan harus berbagi dan kapan memilih untuk menyimpan.
Dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya, Minggu, 5 April 2026, Direktur Wilayah Lembaga Kesehatan Masyarakat DPW BKPRMI Jawa Timur, Moh. Basirul Fuad, menegaskan bahwa menyimpan cerita bukan berarti memendam masalah.
“Tidak semua yang kita alami harus dibagikan. Ada bagian dari hidup yang justru menjadi lebih bermakna ketika kita simpan dan kita olah secara pribadi dengan cara mendekatkan diri kepada Allah atau dalam istilah GenZ nya adalah curhat kepada Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada perbedaan mendasar antara memendam masalah dan menyimpan masalah secara sehat. Memendam masalah cenderung dilakukan dengan menekan emosi tanpa pengolahan. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif seperti stres berkepanjangan, kecemasan, hingga gangguan kesehatan mental.
Sebaliknya, menyimpan masalah berarti seseorang tetap menyadari emosinya, namun memilih waktu dan cara yang tepat untuk mengelolanya. “Memendam itu seperti menutup rapat tanpa ventilasi. Sementara menyimpan adalah proses sadar, artinya, kita mengelola, merenungkan, bahkan mengambil hikmah sebelum memutuskan untuk berbagi atau tidak,” ujarnya.
Data dari berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa individu yang terbiasa memendam emosi memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Sementara itu, individu yang mampu mengelola emosi secara internal, misalnya melalui refleksi diri atau journaling, cenderung memiliki tingkat ketahanan mental yang lebih baik.
Selain aspek psikologis, Basirul Fuad juga menekankan pentingnya pendekatan spiritual dalam menghadapi persoalan hidup. Ia mengatakan, dalam ajaran Islam, setiap permasalahan diyakini memiliki jalan keluar yang diberikan oleh Allah bagi hamba-Nya yang bersabar dan bertawakal.
“Ketika kita tidak mampu menceritakan semuanya kepada manusia, selalu ada ruang untuk mengadu kepada Allah SWT. Di situlah ketenangan hadir, karena Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ungkapkan,” ucapnya.
Ia menambahkan, berdoa, berdzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan bagian dari proses menyimpan masalah secara sehat, karena membantu seseorang menenangkan hati sekaligus menemukan solusi. Selain itu, Basirul Fuad menambahkan pentingnya untuk mengenali diri sendiri, memahami batasan pribadi, serta memilih orang yang tepat jika memang membutuhkan tempat berbagi.
“Fenomena oversharing di media sosial ini juga menjadi perhatian bersama. Karena tidak semua hal layak dipublikasikan, terutama hal yang dapat berdampak pada privasi dan kondisi emosional. Untuk itu, kita perlu bijak. Tidak semua yang kita rasakan harus diketahui orang lain. Ada ruang pribadi yang perlu dijaga agar kita tetap memiliki kendali atas diri sendiri,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga batasan pribadi, serta memilih waktu dan orang yang tepat jika memang perlu berbagi cerita. Pada akhirnya, keseimbangan antara ikhtiar manusia dan ketergantungan kepada Allah menjadi kunci dalam menghadapi setiap persoalan.
“Yang terpenting bukan seberapa banyak kita bercerita, tetapi bagaimana kita memaknai setiap pengalaman dan menyerahkan hasilnya kepada Allah, Tuhan semesta alam, tempat seluruh makhluk kembali,” ujarnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....