Empat Pilar Asuh Anak Digital
- 01 Apr 2026 13:51 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah derasnya pengaruh media sosial, Aisyiyah menegaskan penguatan pola asuh keluarga dan literasi digital menjadi kunci penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Pendekatan ini dinilai penting agar anak tetap bertumbuh sehat secara karakter, sosial, dan moral di setiap fase usianya.
Dalam Dialog Aspirasi RRI Pro 1 Surabaya, Rabu, 1 April 2026, Rohimi Zamzam Ketua PP Aisyiyah bidang Paud Dasmen menekankan pentingnya penguatan keluarga di era media sosial.
Menurut Rohimi, Aisyiyah sejak lama memiliki program khusus yang berfokus pada anak dan keluarga, antara lain PAUD Aisyiyah, Bina Keluarga Balita, parenting keluarga, serta edukasi literasi digital bagi orang tua dan pendidik. Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas keluarga sebagai ruang pendidikan pertama bagi anak.
“Sejak lama Aisyiyah menaruh perhatian besar pada pendidikan anak usia dini dan penguatan keluarga. Orang tua perlu dibekali literasi digital agar mampu mendampingi penggunaan media sosial secara sehat sekaligus mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Rohimi.
Ia menjelaskan, pola asuh anak yang kini terdampak media sosial perlu disikapi melalui penguatan empat pilar, yakni keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan ruang digital sehat. Keempatnya berfokus pada penguatan pendidikan karakter, pembiasaan nilai, pengawasan penggunaan gawai, serta keteladanan dalam keseharian.
Konsep uswah hasanah atau keteladanan menjadi salah satu fokus utama Aisyiyah. Menurut Rohimi, anak belajar paling efektif dari contoh nyata yang diberikan orang tua dan lingkungan terdekat, terutama pada masa emas pertumbuhan.
“Golden age menjadi momentum penting membentuk karakter anak. Keteladanan orang tua, pembiasaan aktivitas positif, dan interaksi hangat di rumah sangat menentukan fondasi kepribadian anak ke depan,” katanya.
Secara ilmiah, fase 0–5 tahun dikenal sebagai golden age, yakni masa pembentukan karakter dasar, perkembangan bahasa, emosi, dan kebiasaan. UNICEF menyebut pengalaman anak pada masa awal kehidupan sangat menentukan fondasi kemampuan belajar, kesehatan mental, dan relasi sosial di masa berikutnya.
Selanjutnya usia 6–12 tahun menjadi fase perkembangan sosial dan moral, ketika anak mulai belajar nilai, empati, disiplin, dan interaksi yang lebih luas di sekolah maupun lingkungan bermain. Sementara usia 13–16 tahun merupakan fase pencarian identitas, ketika remaja membutuhkan pendampingan lebih kuat dalam membangun kontrol diri, nilai personal, dan etika bermedia sosial.
Rohimi menilai pengaruh media sosial pada setiap fase usia memerlukan pendekatan berbeda. Pada usia dini, keluarga perlu menekankan pembiasaan dan pembatasan layar. Pada usia sekolah, anak diarahkan untuk memilah informasi dan membangun empati. Sedangkan pada masa remaja, fokus pengasuhan lebih pada penguatan identitas, dialog terbuka, dan literasi digital yang sehat.
Dengan pendekatan tersebut, Aisyiyah berharap keluarga tidak hanya menjadi ruang perlindungan, tetapi juga pusat pendidikan utama agar anak tumbuh berkarakter, cakap digital, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....