Dua Tanker Pertamina Tertahan, Pengamat Soroti Tekanan AS
- 28 Mar 2026 16:45 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dua kapal tanker milik Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz. Kondisi ini diduga berkaitan dengan tekanan dari Amerika Serikat terhadap Indonesia.
Kepala Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik ITS, Arman Hakim Nasution, menilai situasi tersebut tidak lepas dari dinamika geopolitik. Ia menyebut, kasus kapal tanker minyak milik Iran turut memengaruhi keputusan Indonesia.
“Kenapa dua kapal tanker milik Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz, salah satu penyebabnya karena saat kasus kapal tanker Iran, kita ditekan Amerika Serikat dan Indonesia mengabulkan,” ujarnya, Sabtu, 28 Maret 2026.
Menurut Arman, ada sejumlah faktor yang membuat Indonesia mengikuti permintaan Amerika Serikat. Salah satunya terkait hubungan bilateral dan berbagai kemudahan yang diterima Indonesia.
“Alasannya bisa jadi karena kita diberikan kemudahan, termasuk dari Arab Saudi dan Amerika Serikat. Misalnya pembangunan pemukiman haji di Arab Saudi,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat posisi Indonesia cenderung mengikuti kepentingan Amerika Serikat. Hal ini berbeda dengan negara lain yang lebih fleksibel dalam menentukan kebijakan energi.
Arman mencontohkan Thailand yang mampu mendapatkan izin melintas di Selat Hormuz. Hal itu karena kebutuhan energi Thailand sangat bergantung pada kawasan Timur Tengah.
“Kalau Thailand bisa dapat izin, karena 50 persen kebutuhan BBM-nya dari Timur Tengah. Thailand bermain di dua kaki, benar-benar non-blok,” ucapnya.
Ia menjelaskan, strategi non-blok membuat Thailand mampu menjalin hubungan baik dengan berbagai negara besar. “Thailand main dengan China dan main dengan Amerika Serikat,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....