Lebaran: Kebutuhan atau Tekanan Gaya Hidup
- 16 Mar 2026 18:04 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Menjelang Hari Raya Idulfitri, aktivitas belanja masyarakat biasanya meningkat. Mulai dari membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan khas Lebaran, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Namun di balik tradisi tersebut, masyarakat diingatkan agar tetap bijak dalam mengelola pengeluaran agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif. Dosen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya, Harlina Meidiaswati yang akrab disapa Lilin, mengatakan berbelanja saat Lebaran sebenarnya bukan hal yang keliru karena merupakan bagian dari kebutuhan sekaligus tradisi masyarakat.
“Tidak ada yang salah ketika masyarakat berbelanja di momen Lebaran. Itu bagian dari kebutuhan dan tradisi. Tetapi tentu harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” kata Lilin dalam Dialog Aspirasi RRI Surabaya, Senin, 16 Maret 2026.
| Baca juga: Pelari Soroti PPN Langganan Strava |
Menurutnya, meningkatnya perilaku konsumtif masyarakat menjelang Lebaran tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan, tetapi juga oleh keinginan dan tekanan sosial. Kondisi ini sering kali membuat seseorang sulit membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang sekadar dorongan gaya hidup.
“Fenomena Lebaran menuntut kita bisa membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan tekanan sosial. Banyak orang akhirnya membeli sesuatu bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena ingin mengikuti tren atau lingkungan sosialnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengaruh media sosial saat ini turut memperkuat dorongan konsumsi tersebut. Berbagai konten yang menampilkan gaya hidup, tren busana, hingga cara merayakan Lebaran dapat memunculkan rasa ingin ikut serta, terutama di kalangan generasi muda.
| Baca juga: Viral Life Hack Campur BBM: Ini Faktanya |
“Pengaruh media sosial begitu masif. Istilah fear of missing out atau FOMO pada anak-anak muda juga menjadi salah satu penyebab masyarakat semakin konsumtif karena merasa tidak ingin tertinggal dari orang lain,” ucapnya.
Padahal, tanpa perencanaan keuangan yang baik, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan masalah finansial di kemudian hari, termasuk ketergantungan pada pinjaman untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Karena itu, Lilin menekankan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat mampu menggunakan pertimbangan rasional dalam setiap keputusan belanja.
“Melalui momen Lebaran ini sebenarnya kita belajar tentang literasi keuangan. Banyak masyarakat kita belum menggunakan logika keuangan ketika membeli sesuatu karena adanya tiga dorongan tadi, yaitu kebutuhan, keinginan, dan tekanan sosial,” katanya.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan pada 2022 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68 persen. Hal ini menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum memiliki pemahaman memadai terkait pengelolaan keuangan secara bijak.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional. Data Bank Indonesia menunjukkan konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia dan biasanya meningkat pada periode Ramadan hingga Idulfitri.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, masyarakat diharapkan tetap dapat merayakan Lebaran dengan penuh kebahagiaan tanpa harus terjebak dalam tekanan gaya hidup yang justru dapat membebani kondisi ekonomi keluarga di kemudian hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....