Puasa Ramadan Momentum Reset dan Recharge
- 05 Mar 2026 08:57 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program Cahaya Ramadhan edisi Rabu, 4 Maret 2026, mengangkat topik “Puasa: Saatnya Reset & Recharge” bersama Nur Adi Septanto, S.Pd.I., Sekretaris PW Persis Jawa Timur yang akrab disapa Ustadz Adi. Dalam dialog tersebut dibahas makna puasa sebagai momentum perbaikan diri secara spiritual dan personal.
Ustadz Adi memaknai Ramadan sebagai waktu untuk melakukan reset keimanan. Ia merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah tentang tujuan puasa, yakni agar menjadi pribadi yang bertakwa. “Kita memaknai bulan ramadhan ini salah satunya sebagai reset, reset reorientasi, menggambarkan bahwa setiap individu pribadi-pribadi kita itu sedang melakukan reset keimanan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama 11 bulan seseorang bebas makan dan minum di siang hari. Namun ketika Ramadan tiba, semuanya diatur dan dikendalikan. Kondisi itu menjadi latihan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, sehingga seseorang tetap menahan diri meskipun memiliki kesempatan untuk melanggar secara sembunyi-sembunyi.
| Baca juga: Jaga Amal Ramadan Tetap Istiqomah |
Selain reset, puasa juga dimaknai sebagai recharge spiritualitas. “Puasa ini juga direcharge spiritualitas, jadi menyuntik, menstimulus, mencas, jika energinya tinggal 10 persen justru dengan puasa ini akan menjadi 100 persen,” jelasnya.
Menurutnya, puasa yang dijalankan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala akan menghapus dosa-dosa yang telah lalu, kecuali dosa besar seperti syirik.
Ia menegaskan bahwa landasan utama puasa adalah ibadah kepada Allah SWT, bukan sekadar diet atau tujuan duniawi lainnya. Dampak kesehatan yang muncul merupakan hikmah, namun niat utama tetap mengharap ridha Allah. Nilai ini, lanjutnya, perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak sebelum Ramadan agar mereka siap secara mental dan spiritual.
Dalam dimensi pengendalian diri, Ustadz Adi menyebut puasa sebagai latihan kejujuran personal. Seseorang bisa saja makan diam-diam tanpa diketahui orang lain, namun keimanan menjadi pengontrol utama. Ia mengutip hadis qudsi yang menyatakan bahwa puasa adalah ibadah khusus untuk Allah dan ganjarannya diberikan langsung oleh-Nya.
Menurutnya, berbeda dengan ibadah lain yang dapat terlihat secara fisik seperti haji, salat, atau membaca Al-Qur’an, puasa merupakan ibadah yang sangat personal dan tidak tampak. Karena itu, puasa menjadi sarana pembuktian kualitas keimanan seseorang di hadapan Allah SWT.
Sebagai penutup, Ustadz Adi menekankan bahwa keberhasilan puasa tidak diukur dari lamanya menahan lapar dan dahaga, melainkan dari perubahan diri setelah Ramadan. “Keberhasilan puasa bukan diukur dari berapa jam kita menahan lapar, tapi seberapa besar perubahan yang terjadi setelahnya,” tegasnya.
Ia berharap latihan selama Ramadan membawa dampak signifikan dalam kehidupan sehari-hari setelah bulan suci berakhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....