Tradisi Lulur, Warisan Cantik Nusantara
- 04 Mar 2026 14:08 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Tradisi lulur sebagai warisan budaya Nusantara menjadi topik siaran dialog Obrolan Budaya di 96,8 Pro 4 RRI Surabaya, Senin 3 Maret 2026. Dua narasumber hadir, Ries Handono Prawirodijo, pecinta budaya Nusantara, dan Agustin, praktisi Lulur & Spa, yang mengupas sejarah hingga praktik modern perawatan tradisional tersebut.
Ries Handono Prawirodijo menjelaskan bahwa tradisi lulur telah dikenal sejak era kerajaan di Nusantara. “Zaman dulu, lulur dilakukan oleh putri-putri raja sebagai bagian dari perawatan diri dan persiapan menuju kedewasaan,” ujarnya. Ia menambahkan, ritual itu bukan sekadar mempercantik diri, tetapi juga sarat makna spiritual dan simbol kemakmuran.
Menurut Ries, kekayaan alam Nusantara menjadi kunci berkembangnya tradisi ini. “Indonesia ini gemah ripah loh jinawi. Bahan-bahan alami tumbuh subur dan dimanfaatkan untuk perawatan tubuh,” katanya. Dari beras, temu giring, hingga daun pandan, semuanya diracik menjadi pasta alami yang diwariskan turun-temurun.
Sementara itu, Agustin memperkenalkan pendekatan holy holistic dalam praktiknya. “Kami tidak hanya melihat dari penyakitnya saja, tetapi juga dari tingkat stres, pola makan, dan gaya hidup,” jelasnya. Pendekatan ini memadukan relaksasi, pemijatan, serta lulur berbahan rempah alami.
Agustin memaparkan, lulur tradisional Jawa dibuat dari beras yang direndam semalaman, lalu dihaluskan bersama temu giring dan daun pandan. “Setelah pemijatan ringan untuk relaksasi, lulur diaplikasikan ke tubuh. Saat agak mengering, baru digosok untuk mengangkat sel kulit mati,” terangnya. Hasilnya, kulit menjadi lebih halus dan segar.
Ia menegaskan, kini lulur tidak lagi terbatas bagi kalangan bangsawan. “Sekarang semua orang boleh melakukan perawatan. Tidak hanya gadis remaja, ibu-ibu bahkan pria juga bisa,” ujarnya. Untuk anak-anak, perawatan dilakukan lebih lembut dan cukup sebulan sekali, sementara remaja dan dewasa bisa dua minggu sekali, tergantung aktivitas.
Terkait masalah bau badan remaja, Agustin menyebutkan adanya tambahan bahan seperti cengkeh dan kayu manis, serta terapi uap aromaterapi. “Penguapan setelah lulur bisa membantu menjaga kesegaran tubuh hingga dua minggu,” katanya. Ia juga menyarankan penggunaan bahan alami seperti tawas atau daun pandan sebagai alternatif aman bagi kulit muda.
Selain lulur, perawatan lain seperti mandi susu juga dibahas. Agustin menjelaskan perbedaannya. “Kalau lulur itu untuk eksfoliasi, mengangkat sel kulit mati. Mandi susu lebih ke mencerahkan dan membuat kulit glowing,” tuturnya. Biasanya, mandi susu dilakukan setelah proses luluran sebagai satu paket perawatan.
Dalam dialog tersebut juga dibahas manfaat pegagan untuk jerawat dan peradangan kulit. “Pegagan dicampur beras bisa membantu mendinginkan kulit dan mempercepat kempesnya jerawat,” jelas Agustin. Untuk rambut, bahan alami seperti lidah buaya dan jeruk nipis digunakan untuk mengatasi ketombe dan membuat rambut lebih berkilau.
Menutup dialog, kedua narasumber sepakat bahwa merawat tubuh adalah bagian dari menjaga kesehatan. “Sehat itu mahal. Kita harus mulai dari pola hidup sehat, tidur cukup, minum air putih, dan mengurangi makanan instan,” pungkas Agustin. Tradisi lulur pun bukan sekadar perawatan kecantikan, melainkan cerminan kearifan lokal yang patut dilestarikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....