Dokter: Adiksi Gadget Indikasikan Gangguan Mental
- 27 Feb 2026 07:10 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Ketergantungan gadget pada anak dan remaja dinilai bukan sekadar kebiasaan, tetapi sudah mengarah pada indikasi gangguan mental apabila tidak dikendalikan. Hal itu disampaikan Kadep Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Roni Subagio, dalam Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Kamis, 26 Februari 2026.
Menurut Dr. Roni, adiksi gadget dapat dikenali dari tanda-tanda yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. “Ketergantungan gadget itu sudah mengindikasikan adanya gangguan mental. Adiksi bisa dilihat dari ciri-cirinya, seperti lupa tanggung jawab, tidak konsentrasi bekerja ataupun belajar, lupa makan, kurang istirahat, dan perubahan perilaku lainnya,” ujarnya.
| Baca juga: Kesadaran Diri Jadi Kunci Penyembuhan |
Ia menjelaskan, ketika anak mulai kehilangan kontrol terhadap penggunaan perangkat digital, maka fungsi akademik, sosial, hingga kesehatan mental bisa terdampak.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan penetrasi internet nasional telah mencapai sekitar 79 persen penduduk Indonesia. Anak dan remaja termasuk kelompok pengguna aktif, terutama untuk media sosial dan gim daring.
Sebagai langkah pencegahan, Dr. Roni menekankan konsep tiga L sebagai solusi pengendalian penggunaan gadget pada anak. “Pertama love, artinya orang tua harus membangun kedekatan emosional dengan anak agar mereka tidak mencari pelarian di dunia digital. Kedua limitation, harus ada pembatasan screen time sesuai usia anak. Ketiga letting to grow up, yaitu memberi ruang anak untuk berkembang secara sehat di dunia nyata, bukan hanya di ruang digital,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pembatasan tanpa kasih sayang dan komunikasi tidak akan efektif. “Harus ada pendampingan ketika anak berselancar di dunia maya. Jangan dilepas begitu saja. Orang tua tetap harus hadir,” tegasnya.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan paparan layar berlebihan pada anak berkaitan dengan gangguan konsentrasi, gangguan tidur, hingga peningkatan risiko kecemasan dan depresi. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia telah mengakui gangguan bermain gim sebagai bagian dari gangguan mental apabila sudah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
Dr. Roni berharap keluarga dapat mengambil peran aktif agar teknologi tetap menjadi alat yang bermanfaat, bukan sumber masalah bagi kesehatan mental generasi muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....