Digitalisasi Wayang Jadi Strategi Pelestarian Seni Tradisi
- 23 Feb 2026 23:38 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Di tengah gempuran budaya global dan perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, pelestarian seni dan budaya tradisional menjadi tantangan sekaligus kebutuhan penting. Berbagai upaya kreatif terus dilakukan agar warisan leluhur tetap hidup, relevan, dan dikenal oleh generasi masa kini.
Salah satu bentuk inovasi yang menonjol terlihat pada seni pewayangan. Pementasan wayang kini tidak hanya hadir di panggung konvensional, tetapi mulai beralih ke platform digital melalui animasi, video daring, hingga pertunjukan berbasis teknologi.
Kehadiran kreator muda yang melek teknologi menjadi harapan baru bagi keberlanjutan seni tradisi. Mereka tidak sekadar menjadi penikmat, tetapi ikut berperan aktif mengemas ulang cerita klasik dengan pendekatan visual modern yang lebih dekat dengan selera generasi digital.
Menurut Kaprodi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Mochtar Lutfi, pelestarian seni tradisi harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan perilaku masyarakat penikmatnya. Hal tersebut disampaikan kepada Pro1, Senin 23 februari 2026.
"Seni tradisi harus mengikuti kemajuan jaman, mengikuti perilaku pasar, yaitu masuk ke dunia digital," ujar Mochtar Lutfi.
Ia mencontohkan karya almarhum dalang visioner Ki Seno Nugroho yang dikenal sebagai pelopor pengembangan wayang animasi. Lakon seperti Bagong Gugat Kayangan dan Petrus versus Durmagati menjadi bukti bahwa pewayangan mampu tampil lebih dinamis dan mudah diakses melalui YouTube serta berbagai platform digital.
"Dalang Ki Seno Nugroho adalah salah satu perintis wayang di dunia digital dalam bentuk animasi, youtube, streaming dan lainnya. Kalau tidak, akan dilupakan oleh penggemarnya," kata Mochtar Lutfi menegaskan.
Lebih lanjut, dosen pascasarjana yang akrab disapa Pak Lutfi tersebut berharap digitalisasi seni tradisi dapat menginspirasi para dalang dan seniman lain untuk terus berinovasi. Ia menilai pemanfaatan teknologi membuka peluang lahirnya kreator baru yang berani mengeksplorasi kekayaan budaya Nusantara melalui medium modern.
Sebagai contoh keberhasilan digitalisasi, ia menyebut adaptasi kisah Raden Wijaya dalam game daring Wijaya Assassin. Menurutnya, transformasi digital membuat cerita lokal memiliki jangkauan global, bahkan ditonton masyarakat diaspora di Malaysia, Suriname, hingga berbagai negara lain.
"Karya Wijaya Assassin kini ditonton oleh orang-orang Jawa yang di Malaysia, Suriname (Amerika Selatan) dan masyarakat dunia lainnya," pungkasnya. Digitalisasi pun dinilai bukan sekadar alat pelestarian budaya, tetapi juga sarana diplomasi budaya Indonesia di tingkat dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....