Dewan Pendidikan Jatim: MBG Bentuk Karakter Pelajar

  • 19 Feb 2026 08:50 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga dinilai memberi kontribusi dalam pembentukan karakter peserta didik. Hal itu disampaikan Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur, Ali Yusa, dalam Dialog Aspirasi RRI Surabaya, Rabu (18/2/2026).

Ia mengapresiasi pelaksanaan MBG karena menghadirkan nilai pendidikan non-akademik yang dirasakan langsung para penerima manfaat di sekolah. “Kami mengapresiasi program MBG karena memberikan manfaat baik bagi peserta didik, terutama dalam pendidikan karakter. Anak-anak belajar saling berbagi, saling menghargai, dan saling menghormati,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan baru yang terbentuk melalui program tersebut sejalan dengan kebutuhan pembentukan generasi muda yang sehat dan berkarakter. Selama ini, pola konsumsi anak dinilai masih didominasi makanan instan dan kurang sehat. “Selama ini anak-anak kita terbiasa mengonsumsi makanan instan, junk food, dan makanan tidak sehat. Dengan adanya MBG, mereka diajarkan mengonsumsi makanan sehat dan juga bervariasi,” katanya.

Pemantauan Dewan Pendidikan Jawa Timur di sejumlah satuan pendidikan juga menunjukkan program MBG mendorong keteraturan pola makan, kedisiplinan, serta kebersamaan antarsiswa di lingkungan sekolah. Namun demikian, Ali Yusa menegaskan pelaksanaan program tetap memerlukan evaluasi berkelanjutan. Ia menyoroti sejumlah persoalan yang sempat muncul di lapangan, seperti kasus keracunan maupun menu yang dinilai kurang layak konsumsi.

“Terlepas dari banyak manfaatnya, ketika ada persoalan seperti keracunan atau menu yang tidak layak, tentu harus menjadi bahan evaluasi bersama,” ucapnya.

Karena itu, ia menilai keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam penyempurnaan program ke depan. “Penting ada keterlibatan orang tua, pelajar, guru, dan pihak sekolah. Variabel pendukung itulah yang akan menjadikan program ini lebih baik,” ujarnya lagi.

Ia menambahkan, MBG juga menjadi ruang pembelajaran partisipatif bagi siswa untuk berani menyampaikan aspirasi serta lebih kritis terhadap kebutuhan mereka. “Anak-anak diajar berani menyampaikan aspirasinya, menjadi lebih kritis. Orang tua juga perlu dilibatkan karena merekalah yang memahami kebutuhan anak, bersama pihak sekolah sebagai pendamping,” ucapnya.

Dewan Pendidikan Jawa Timur berharap, melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, pelaksanaan MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan peserta didik, tetapi juga memperkuat pembentukan karakter generasi muda di lingkungan pendidikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....