Obrolan Budaya Pro4 Kupas Tradisi Imlek Sarat Makna Kebersamaan

  • 18 Feb 2026 00:43 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Obrolan Budaya edisi Selasa 17 Februari 2025 mengangkat tradisi Imlek bersama pelaku budaya Ning Vivi, Cak Wenas, serta pecinta budaya Nusantara Cak Ries. Diskusi berlangsung hangat membahas sejarah, filosofi, hingga praktik perayaan Imlek di tengah masyarakat majemuk.

Dalam dialog tersebut disampaikan, Imlek menjadi hari libur nasional setelah kebijakan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid yang mencabut pembatasan ekspresi budaya Tionghoa. Cak Ries menambahkan, penguatan status hari libur nasional kemudian dilakukan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri sehingga perayaan Imlek semakin terbuka di ruang publik.

Cak Ries berbagi pengalaman mengikuti Pasar Imlek Semawis di Semarang yang selalu ramai menjelang Imlek. Menurutnya, tradisi tersebut menunjukkan kuatnya kebersamaan lintas budaya di Indonesia. “Ramainya luar biasa, tapi di situ terasa semangat rukun dan saling menghargai,” katanya.

Dari sisi filosofi, Cak Wenas menjelaskan tradisi Tionghoa mengenal nilai Cheng Li (adil), Cing Cai (fleksibel), dan Cuan (keuntungan). “Intinya bagaimana manusia hidup jujur, adil, dan bisa dipercaya. Dari situ lahir keharmonisan,” ujarnya.

Ia juga menekankan ucapan khas Imlek pada dasarnya berisi doa kesejahteraan dan kemudahan hidup.

Sementara itu, Ning Vivi menambahkan, persiapan Imlek tidak harus berlebihan. Ia menyebut tradisi belanja kebutuhan leluhur biasanya tidak ditawar sebagai simbol harapan rezeki, namun tetap menyesuaikan kemampuan.

“Tidak wajib baju baru, yang penting ada unsur baru dan semangat berbagi, termasuk lewat angpao,” ujarnya.

Mereka sepakat Imlek bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum mempererat silaturahmi, menghormati leluhur, serta menjaga harmoni sosial dalam keberagaman budaya Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....