Tradisi 1 Suro di Jawa Timur, Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

  • 16 Jun 2026 09:09 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Masyarakat Jawa Timur kembali menyambut datangnya 1 Suro atau 1 Muharram dengan beragam tradisi budaya yang sarat makna. Melalui unggahan resmi di media sosial Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur @kominfojatim, peringatan 1 Suro disebut sebagai momen sakral yang tidak hanya menjadi penanda Tahun Baru Islam, tetapi juga sarana pelestarian budaya dan refleksi diri bagi masyarakat.

Bulan Suro memiliki nilai spiritual yang kuat dalam tradisi masyarakat Jawa. Berbagai ritual, kirab budaya, hingga doa bersama digelar di sejumlah daerah sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di Kabupaten Ponorogo, masyarakat menggelar Grebeg Suro, yang menjadi salah satu ikon perayaan Suro di Jawa Timur.

Kegiatan ini menghadirkan kirab pusaka, Festival Reog Nasional, larung sesaji, serta pameran UMKM dan seni budaya yang memadukan unsur religius, tradisi, dan pariwisata. Sementara itu, di Kabupaten Kediri, terdapat Ritual Petilasan Sri Aji Joyoboyo.

Tradisi yang dilaksanakan pada malam 1 Suro ini diisi dengan kirab budaya dan doa bersama di lokasi yang diyakini sebagai tempat muksa Raja Kediri legendaris tersebut. Masyarakat berharap memperoleh keberkahan sekaligus menjaga nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.

Di Kabupaten Gresik, masyarakat melaksanakan Jamasan Pusaka, yaitu tradisi membersihkan pusaka yang melambangkan penghormatan kepada para pembuat keris dan upaya menjaga kelestarian budaya agar tidak tergerus zaman. Beragam tradisi lainnya juga berlangsung di sejumlah daerah. Kabupaten Mojokerto menggelar Ruwat Agung Nuswantoro, yaitu prosesi penyucian atau jamasan benda pusaka berusia ratusan tahun menggunakan air dari tujuh sumber mata air di kawasan bekas kejayaan Majapahit.

Di Kabupaten Magetan, masyarakat merayakan Ledug Suro sebagai bentuk rasa syukur. Perayaan ini dimeriahkan dengan lomba lesung bedhug dan tradisi berebut roti bolu khas daerah yang selalu menarik antusiasme warga.

Sedangkan di Kabupaten Banyuwangi, digelar Grebeg Tumpeng Agung yang menghadirkan dua tumpeng raksasa, yakni tumpeng lanang dan tumpeng wadon. Tradisi tersebut bertujuan memohon keselamatan dan kesejahteraan masyarakat agar terhindar dari berbagai mara bahaya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai berbagai tradisi 1 Suro merupakan kekayaan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya. Selain memperkuat identitas daerah, tradisi tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, nilai spiritual, serta kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Melalui pelestarian tradisi 1 Suro, masyarakat Jawa Timur diharapkan dapat terus menjaga harmoni antara nilai keagamaan, budaya, dan kehidupan sosial di tengah perkembangan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....