Pers Sehat Menguatkan Ekonomi dan Demokrasi Bangsa

  • 09 Feb 2026 14:29 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya: Pers yang sehat justru terlihat saat menghadapi tekanan ekonomi di tengah perubahan industri media. Ketika redaksi mampu menjaga jarak dari kepentingan bisnis dan tetap memegang akurasi, verifikasi, serta etika jurnalistik, kepercayaan publik akan tetap terjaga. 

“Tekanan ekonomi adalah ujian utama independensi pers, dan media yang konsisten menjaga etika justru akan bertahan karena publik masih percaya,” kata Dosen Communication Binus University, sekaligus mantan jurnalis Wahyu Kristian Natalia, M.I.Kom, Senin, 9 Februari 2026.

Lebih jauh, pers memiliki peran strategis dalam menguatkan ekonomi rakyat, khususnya melalui pemberitaan yang berpihak pada UMKM dan pelaku usaha kecil. Tidak sekadar menonjolkan kisah sukses, pers juga berfungsi mengawal kebijakan agar benar-benar berpihak pada ekonomi rakyat. 

“Pemberitaan yang konsisten dan berkelanjutan dapat membantu UMKM naik kelas sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional,” jelas Natalia. 

Dalam konteks kebebasan pers, terdapat sejumlah indikator penting sebagaimana tercantum dalam World Press Freedom Index, mulai dari konteks politik, kerangka hukum, hingga keberlanjutan ekonomi media. Selain itu, aspek sosial-budaya dan keamanan jurnalis juga menjadi penentu kualitas kebebasan pers. 

“Independensi pers tidak bisa dilepaskan dari situasi politik, hukum, dan ekonomi yang menopang kerja jurnalistik secara menyeluruh,”terangnya. 

Pers juga dituntut tetap kritis terhadap kebijakan publik, namun kritik tersebut harus berbasis data dan konteks yang jelas. Kritik yang disampaikan pers idealnya tidak sekadar menyerang, tetapi juga memberi penjelasan dan alternatif solusi. 

“Pers yang bertanggung jawab adalah pers yang mengkritik dengan data, memberi konteks, dan tetap berpegang pada amanat Undang-Undang Pers,” imbuhnya.

Di era digital, tantangan terbesar industri media adalah tuntutan kecepatan dan viralitas yang kerap mengorbankan kedalaman informasi. Padahal, jurnalis masa kini berperan sebagai penjaga nalar publik di tengah banjir informasi dan hoaks. 

“Bisnis media memang penting untuk keberlanjutan, tetapi kontrol sosial adalah rohnya; selama redaksi independen dan publik menjadi orientasi utama, idealisme dan bisnis bisa berjalan beriringan,”ujarnya. 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....