Operasi Modifikasi Cuaca Bukan Menciptakan Cuaca Baru
- 05 Feb 2026 18:57 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa banjir yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak semata-mata disebabkan oleh hujan, melainkan juga oleh faktor lingkungan dan perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan BMKG dalam edukasinya melalui akun media sosial @infobmkg terkait Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
BMKG menjelaskan, di kawasan Jabodetabek misalnya, dahulu terdapat sekitar 1.000 situ atau danau kecil yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Namun kini jumlahnya menyusut drastis dan hanya tersisa sekitar 200-an.
Berkurangnya tempat penampungan air ini membuat air hujan lebih mudah meluap saat hujan deras, sehingga meningkatkan risiko banjir.
“Banjir bukan hanya soal hujan, tetapi juga soal lingkungan. Ketika resapan air berkurang, maka hujan dengan intensitas tinggi akan lebih cepat menyebabkan genangan dan banjir,” tulis BMKG.
BMKG menilai, penataan lingkungan saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan saat ini. Perubahan iklim membuat pola hujan semakin tidak menentu, dengan intensitas hujan yang cenderung lebih deras, lebih sering, dan bersifat ekstrem.
Oleh karena itu, selain perbaikan lingkungan, diperlukan upaya pengelolaan hujan agar tidak jatuh dengan intensitas yang terlalu ekstrem. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
BMKG menegaskan bahwa OMC tidak memindahkan hujan ke daerah lain dan tidak menciptakan cuaca baru. OMC bekerja dengan memanfaatkan awan yang sudah ada dan mengikuti proses alami pembentukan hujan.
Dalam praktiknya, OMC dilakukan dengan dua metode. Pertama, Jumping Process Method, yakni menyemai awan di atas laut agar sebagian hujan turun di laut sehingga intensitas hujan di daratan berkurang. Kedua, Competition Method, yaitu menyemai awan yang masih kecil di daratan agar tidak berkembang menjadi awan besar penyebab hujan ekstrem.
“Hujan tetap terjadi, tetapi intensitasnya menjadi lebih ringan sehingga tidak bersifat destruktif,” jelas BMKG dalam tulisannya di akun media sosial @infobmkg.
Terkait isu cold pool, BMKG menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan proses meteorologi alami. Cold pool terjadi saat sebagian air hujan menguap, membuat udara menjadi lebih dingin dan padat, lalu turun ke permukaan bumi dan menyebar ke samping.
BMKG memastikan bahwa cold pool pasti terjadi pada setiap hujan lebat, baik dengan maupun tanpa OMC. Secara ilmiah, manusia belum memiliki teknologi untuk mendinginkan udara dalam skala besar.
“Jika OMC membuat hujan turun lebih cepat, maka cold pool yang muncul adalah akibat hujan itu sendiri, sama persis seperti hujan alami,” tulis BMKG.
BMKG menyimpulkan bahwa banjir terjadi akibat kombinasi kerusakan lingkungan, berkurangnya resapan air, serta hujan ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Karena itu, penataan lingkungan dan Operasi Modifikasi Cuaca perlu dilakukan secara bersamaan.
Di Indonesia, OMC bertujuan untuk mitigasi bencana dan mengurangi risiko banjir, bukan menciptakan cuaca buruk atau merugikan wilayah lain. BMKG pun mengajak masyarakat untuk memahami informasi cuaca secara utuh dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi keliru terkait OMC.
Edukasi publik dinilai penting agar upaya mitigasi bencana dapat dipahami dan didukung bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....